Korban Kekerasan Seksual Kerap Tak Menyadari Dirinya Menjadi Korban
- 16 Jun 2026 08:17 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kasus kekerasan seksual tidak selalu ditandai dengan tindakan fisik yang mudah dikenali. Banyak korban justru tidak menyadari bahwa dirinya telah mengalami kekerasan seksual karena pelaku menggunakan cara-cara manipulatif yang melibatkan aspek psikologis dan sosial.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen Psikologi UKWMS, Jaka Santosa Sudagijono, M.Psi., Psikolog saat menjadi narasumber program PUG dan INKLUSI Pro 1 RRI Madiun. Menurutnya, pemahaman masyarakat mengenai kekerasan seksual perlu diperluas karena bentuknya tidak selalu berupa kekerasan fisik yang kasat mata.
"Yang dimaksud kekerasan itu meskipun istilahnya kita menggunakan kekerasan, tetapi sebetulnya dia tidak serta-merta bisa jadi terlihat secara fisik. Ada yang jelas melibatkan aspek-aspek seperti bujukan, manipulasi, maupun intimidasi yang berkaitan dengan hal-hal bersifat seksual antara satu individu dengan individu yang lain," jelas Jaka.
Ia mengatakan, salah satu persoalan utama dalam kasus kekerasan seksual adalah korban sering kali baru menyadari dirinya menjadi korban setelah peristiwa berlangsung cukup lama. Kesadaran tersebut kerap datang terlambat karena pelaku menggunakan pendekatan yang tidak terlihat sebagai bentuk kekerasan.
"Korban sering tidak menyadari kalau dirinya merupakan korban kekerasan seksual. Kesadaran itu biasanya datang terlambat. Misalnya dalam kasus grooming yang beberapa waktu lalu sempat viral. Dulu mungkin 10 sampai 20 tahun lalu kita belum mengenal istilah itu, tetapi sekarang kesadaran masyarakat terhadap bentuk-bentuk kekerasan seperti ini semakin berkembang," ujarnya.
Menurut Jaka, perkembangan pemahaman mengenai kekerasan seksual tidak lepas dari meningkatnya kesadaran tentang kesetaraan gender. Karena itu, tindakan yang merugikan korban tidak selalu berbentuk kontak fisik, melainkan juga dapat muncul melalui tekanan psikologis dan pengaruh sosial.
Ia menegaskan bahwa kekerasan seksual tidak bisa dipahami semata-mata sebagai akibat dorongan seksual pelaku. Dalam banyak kasus, terdapat faktor sosial dan budaya yang turut berkontribusi terhadap terjadinya kekerasan tersebut.
Jaka menjelaskan, masyarakat Indonesia yang masih dipengaruhi budaya patriarki kerap menempatkan laki-laki pada posisi yang lebih dominan dalam relasi sosial. Kondisi ini, menurutnya, dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong terjadinya kekerasan seksual.
"Sering kali secara sosial laki-laki dianggap memiliki kepemimpinan, kekuasaan, atau power yang lebih besar. Dalam perjalanannya, kita menemukan bahwa kekerasan seksual ternyata tidak hanya melibatkan aspek fisik, tetapi juga banyak dipengaruhi faktor sosial dan budaya," katanya.
Lebih lanjut, ia menilai anggapan bahwa seluruh pelaku kekerasan seksual bertindak semata-mata karena dorongan nafsu seksual tidak sepenuhnya tepat. Kasus yang benar-benar dipicu oleh gangguan perilaku seksual atau kondisi patologis justru tidak terlalu banyak ditemukan.
Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada perilaku individu, tetapi juga memperhatikan faktor sosial, budaya, serta peningkatan kesadaran masyarakat mengenai berbagai bentuk kekerasan seksual yang sering kali tidak tampak secara fisik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....