Mengelola Screen Time untuk Kerja yang Sehat dan Produktif

  • 03 Apr 2026 08:39 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di era digital saat ini, Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut untuk bekerja cepat, responsif, dan selalu terhubung dengan perangkat digital. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan serius berupa meningkatnya durasi screen time yang berdampak pada kesehatan fisik maupun produktivitas kerja.

Direktur RSUD Dr. Soetomo, Prof. Dr. Citra Rosita Sigit Prakoeswa, menegaskan bahwa digital wellness menjadi isu penting yang tidak bisa diabaikan, khususnya bagi ASN yang sehari-hari bekerja di depan layar komputer maupun gawai. Menurutnya, penggunaan perangkat digital secara berlebihan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.

“Screen time yang tinggi berisiko menyebabkan kelelahan mata, kulit kering, gangguan tidur, hingga masalah postur tubuh seperti nyeri leher dan punggung,” jelasnya, Kamis, (2/4/2026) dalam webinar ASN Seri ke 11 yang diselenggarakan oleh BKPSDM Jatim.

Prof. Citra menjelaskan bahwa paparan layar dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada mata, tetapi juga pada kesehatan kulit dan sistem tubuh secara keseluruhan. Cahaya biru dari layar dapat mempercepat penuaan kulit dan memicu hiperpigmentasi.

Selain itu, kebiasaan duduk terlalu lama tanpa jeda juga meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal. Tak hanya itu, screen time berlebih juga berdampak pada kualitas tidur. Paparan cahaya layar sebelum tidur dapat mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur, sehingga ASN berpotensi mengalami kelelahan kronis.

Selain kesehatan fisik, kebiasaan menatap layar terlalu lama juga memengaruhi kinerja. ASN yang mengalami kelelahan digital cenderung mengalami penurunan fokus, mudah terdistraksi, serta menurunnya kualitas pengambilan keputusan.

Produktivitas bukan soal bekerja lebih lama di depan layar, tetapi bagaimana bekerja dengan cerdas dan menjaga keseimbangan,” tegas Prof. Citra.

Untuk mengatasi hal tersebut, Prof. Citra memperkenalkan konsep sederhana yang dapat diterapkan di sela aktivitas kerja, yaitu The One Minute Reset. Teknik ini dilakukan dengan cara menghentikan aktivitas sejenak selama satu menit untuk menarik napas dalam, meregangkan otot, dan mengistirahatkan mata dari layar.

“Dalam satu menit, tubuh kita bisa ‘di-reset’. Ini sederhana, tetapi berdampak besar jika dilakukan secara konsisten,” ujarnya.

Selain jeda singkat, penerapan ergonomi kerja juga menjadi kunci. Posisi duduk yang benar, tinggi layar sejajar mata, serta penggunaan kursi yang mendukung postur tubuh dapat mengurangi risiko cedera akibat kerja.

ASN disarankan untuk menjaga posisi tubuh tetap tegak, dengan jarak pandang layar sekitar 50–70 cm, serta memastikan pencahayaan ruangan cukup agar tidak membebani mata. Upaya lain yang tak kalah penting adalah melakukan digital detox, yakni membatasi penggunaan perangkat digital di luar jam kerja. ASN dapat menetapkan waktu bebas layar, terutama menjelang tidur, untuk menjaga kualitas istirahat.

Selain itu, manajemen notifikasi juga perlu diperhatikan. Notifikasi yang terus-menerus muncul dapat mengganggu konsentrasi dan meningkatkan stres. Oleh karena itu, penting untuk mengatur prioritas notifikasi dan mematikan yang tidak mendesak.

Prof. Citra menekankan bahwa menjaga kesehatan di era digital bukan berarti menghindari teknologi, melainkan menggunakannya secara bijak. Dengan pengelolaan screen time yang tepat, ASN dapat tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan.

“Digital wellness adalah investasi jangka panjang. ASN yang sehat secara fisik dan mental akan mampu memberikan pelayanan publik yang lebih optimal,” tambahnya.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan kesehatan, diharapkan para ASN dapat menerapkan kebiasaan kerja yang lebih sehat, sehingga kinerja tetap optimal dan kualitas hidup tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....