Mengelola Digital Stress dalam Dunia Kerja: Begini Triknya

  • 03 Apr 2026 08:23 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dunia kerja modern kini tak lepas dari perangkat digital. Mulai dari komunikasi via pesan instan, rapat daring, hingga tuntutan respons cepat terhadap email, semuanya menjadi bagian dari rutinitas harian.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang kian dirasakan banyak pekerja yakni digital stress. Menurut, Dr. Fajrianthi, M.Psi., Psikolog, dalam webinar ASN Seri 11 mengatakan digital stress adalah kondisi tekanan psikologis yang muncul akibat penggunaan teknologi digital secara berlebihan atau tidak seimbang.

“Teknologi seharusnya memudahkan pekerjaan, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa menjadi sumber stres yang signifikan,” jelasnya, Kamis (3/4/2026).

Digital stress merujuk pada perasaan tertekan, cemas, atau kelelahan mental akibat paparan teknologi digital yang terus-menerus. Kondisi ini sering ditandai dengan sulit fokus, kelelahan emosional, hingga menurunnya produktivitas kerja.

Dalam dunia kerja, digital stress bisa muncul karena berbagai faktor, seperti tuntutan untuk selalu online, notifikasi yang tak henti, hingga budaya kerja yang menuntut respon cepat di luar jam kerja.

Dr. Fajrianthi menjelaskan bahwa digital stress tidak hanya berdampak pada satu aspek saja, melainkan bersifat multi dimensi, antara lain:

  1. Dimensi kognitif: sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi.
  2. Dimensi emosional: muncul rasa cemas, tertekan, hingga burnout.
  3. Dimensi fisik: kelelahan mata, sakit kepala, gangguan tidur.
  4. Dimensi sosial: berkurangnya interaksi langsung dan kualitas hubungan interpersonal.

“Ketika semua dimensi ini terpengaruh, maka kualitas hidup dan kinerja seseorang juga ikut menurun,” tambahnya.

Salah satu cara yang populer untuk mengatasi digital stress adalah digital detox, yaitu upaya membatasi atau menghentikan penggunaan perangkat digital dalam jangka waktu tertentu. Contohnya tidak membuka email kerja setelah jam kantor, mengurangi penggunaan media sosial, menjadwalkan waktu bebas gadget. Namun, meski terlihat sederhana, tidak semua orang berhasil menjalankannya.

Menurut Dr. Fajrianthi, ada beberapa alasan mengapa digital detox tidak berjalan efektif. Di antaranya tuntutan pekerjaan yang mengharuskan tetap terhubung, kurangnya batasan yang jelas antara waktu kerja dan pribadi, kemudian ketergantungan psikologis terhadap perangkat digital, dan tidak adanya kebiasaan pengganti yang lebih sehat.

"Digital detox bukan sekadar berhenti menggunakan gadget, tapi perlu strategi yang realistis dan konsisten,” ujarnya.

Sebagai solusi jangka panjang, konsep digital wellness menjadi pendekatan yang lebih berkelanjutan. Digital wellness adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi secara sehat, seimbang, dan sadar.

Beberapa healthy habits yang bisa diterapkan antara lain:

  • Membuat batasan waktu digital
    Tentukan jam kerja yang jelas dan hindari membuka perangkat di luar waktu tersebut.
  • Manajemen notifikasi
    Nonaktifkan notifikasi yang tidak penting agar tidak mudah terdistraksi.
  • Teknik jeda digital (digital break)
    Istirahat sejenak dari layar setiap 1–2 jam untuk menjaga kesehatan mental dan fisik.
  • Prioritaskan komunikasi yang bermakna
    Tidak semua pesan harus dibalas segera, pilih yang benar-benar penting.
  • Kegiatan offline
    Luangkan waktu untuk aktivitas tanpa gadget seperti olahraga, membaca, atau berkumpul dengan keluarga.

Dr. Fajrianthi menekankan bahwa kunci utama adalah kesadaran diri.

Kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari teknologi, tetapi kita bisa mengatur bagaimana teknologi itu memengaruhi hidup kita,” jelasnya.

Digital stress merupakan tantangan nyata dalam dunia kerja modern. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa merusak kesehatan mental dan produktivitas. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mulai menerapkan pola hidup digital yang sehat melalui digital wellness dan kebiasaan positif.

Dengan langkah yang tepat, teknologi bukan lagi menjadi sumber tekanan, melainkan alat yang benar-benar mendukung kualitas kerja dan kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....