Terapi Sensori Integrasi untuk Anak Berkebutuhan Khusus

  • 24 Mar 2026 16:17 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Terapi sensori integrasi penting dilakukan untuk anak berkebutuhan khusu, diungkapkan Arif Budi Santoso dalam acara acara Ruang Disabilitas dan Inklusi programa 1 RRI Madiun, Sabtu (27/3). Terapi ini difokuskan untuk membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus dalam mengolah rangsangan yang mereka terima dari lingkungan. Arif menjelaskan bahwa banyak perilaku negatif seperti tantrum atau marah berlebihan sebenarnya berakar dari ketidakmampuan anak dalam memproses informasi yang diserap oleh indra mereka, baik itu suara, sentuhan, maupun gerakan

Arif menjelaskan bahwa perilaku negatif seperti menangis, berteriak, hingga tantrum sering kali dikarenakan gangguan pemrosesan sensoris. “Anak-anak ini merasa kewalahan atau overload terhadap hal-hal yang dianggap wajar bagi orang tipikal, seperti suara keras atau sentuhan tertentu, “ kata Arif. Menurut Arif, perilaku tersebut bukanlah sebuah kenakalan, melainkan bentuk ketidaknyamanan fisik yang nyata dirasakan oleh sang anak.

Arif menegaskan perbedaan penting antara tantrum dan melt down. Tantrum biasanya terjadi karena keinginan yang tidak terpenuhi, sementara melt down dipicu oleh stimulasi sensoris yang berlebihan.

"Jadi yang ditekankan adalah mengurangi perilaku yang negatif, perilaku ini adalah bukan suatu perilaku yang nakal, bukan suatu yang kenakalan. Jadi adalah suatu proses mereka merasa tidak nyaman," ungkap Arif.

Metode terapi yang dilakukan melibatkan aktivitas fisik yang terukur untuk melatih regulasi sistem motorik. Anak-anak diajak untuk menghadapi ketakutannya secara bertahap, misalnya melalui latihan naik-turun tangga atau bermain ayunan dengan frekuensi yang konsisten.

Selain aspek fisik, terapi sensori integrasi juga menjadi fondasi bagi perkembangan komunikasi dan sosial. Arif menyatakan bahwa anak harus dikondisikan agar siap belajar sebelum masuk ke terapi bicara. Dengan melatih fokus melalui koordinasi mata dan tangan, seperti meronce atau menyusun pola, anak akan lebih mudah menerima instruksi dan berinteraksi di lingkungan sekolah maupun sosial.

Latihan keseharian di rumah tetap memegang peranan penting. Orang tua didorong untuk konsisten melatih anak beradaptasi dengan berbagai tekstur dan situasi tanpa memaksa secara berlebihan. Sinergi antara terapis, sekolah, dan orang tua diharapkan dapat meminimalkan trauma dan meningkatkan kemandirian anak di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....