Rektor UMMAD: Islam Wasathiyah, Ibadah Bukan Sekedar Ritual
- 25 Jun 2025 18:15 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Rektor Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD), Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si menjelaskan tentang makna Islam Wasathiyah saat menjadi penceramah dalam Kajian Ahad Pagi di Islamic Centre Madiun (UMMAD). Menurutnya, memahami Islam Wasathiyah ini harus dilakukan umat Islam agar semangat melaksanakan praktik ajaran agama Islam bisa lebih berkembang.
“Agar kita ini jangan sampai hanya melakukan ibadah ritual tapi juga berfikir mengembangkan agama Islam itu agar lebih maju baik di tingkat keluarga, lingkungan sekitar, daerah, nasional bahkan internasional," ujar Rektor UMMAD dihadapan seribuan jemaah Kajian Ahad Pagi (22/06/2025).
Prof. Sofyan Anif menyampaikan bahwa ‘Wasathiyah’ artinya tengah, adil, pilihan, unggul, dll. Seperti yang disampaikan mufassir terkenal, Imam Al Qurthubi, bahwa umat Wasathan adalah umat yang berkeadilan, umat yang paling baik karena sesuatu yang paling baik adalah yang paling adil.
Saat ini ditengah gerakan Islam yang mengedepankan tekstual, lanjut Prof. Sofyan Anif, maka Islam harus dikembalikan kepada Islam Washatiyah, pada Islam yang berkeadilan, Islam yang tengah. Dalam ceramahnya dia mengingatkan para jemaah tentang perintah Allah SWT agar umat Islam menjadi umat yang moderat, adil, cerdas, selalu pada posisi tengah, tidak berada dalam posisi ekstrim atau berlebihan.
"Dalam Risalah Islam Berkemajuan sebagai karakter Muhammadiyah, Islam Wasathiyah lebih berorientasi pada nilai Praksis dengan pendekatan perspektif kontekstual (burhani) yang bisa membawa kebermanfaatan yang lebih sebagai bentuk manifestasi Islam rahmatan Lil 'alamin," terang Guru Besar Bidang Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut.
Menurut Rektor UMMAD, salah satu hal Praksis dari implementasi Islam Wasathiyah adalah bahwa Islam merupakan agama yang sangat bertoleransi. Dijelaskannya, Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin saat membahas sikap sahabat Nabi SAW mengenai bab zuhud menyebutkan para sahabat tidak bekerja di dunia untuk dunia tapi untuk agama.
"Para sahabat tidak menerima atau menolak dunia secara keseluruhan sehingga tidak ekstrim dalam menilai atau menerima, tetapi bersikap diantara keduanya secara seimbang. Inilah sikap yang sangat dicintainya Allah SWT," tandas Prof. Sofyan Anif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....