Optimalisasi Fungsi Lahan Hutan, Melalui Budidaya Kopi di Bawah Tanaman Tegakan

  • 31 Jul 2026 23:36 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Budi daya kopi dengan sistem tanam di bawah tegakan pohon hutan menjadi strategi efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memitigasi risiko bencana. Langkah ini terbukti mampu mengoptimalkan fungsi lahan hutan di Kabupaten Pacitan tanpa harus merusak atau menebang pohon-pohon tinggi dan keras yang ada.

Dalam dialog Mitigasi Bencana Kentongan, oleh RRI Madiun, Penyuluh Kehutanan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan, Suhadi, S.P., M.M., M.P., menjelaskan pentingnya memanfaatkan ruang bawah tegakan kayu hutan.

“Tanaman tegakan itu merupakan pepohonan kayu berukuran tinggi seperti pohon pinus, yang tumbuh dan berdiri menjulang di kawasan hutan. Dalam sistem agroforestri, pohon tegakan ini berfungsi sebagai pohon penaung (shading trees) bagi tanaman di bawahnya,” jelas Suhadi.

Sehingga tegakan pohon pinus yang mempunyai tinggi 10 hingga 15 meter, dapat difungsikan sebagai pelindung utama bagi tanaman produktif di bawahnya, contohnya kopi. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa secara teknis, tanaman kopi hanya membutuhkan intensitas sinar matahari sekitar 60 persen untuk dapat tumbuh dan berkembang secara ideal.

Oleh karena itu, keberadaan pohon penuang seperti pinus sangat krusial agar tanaman kopi tidak terpapar terik matahari secara langsung yang berpotensi merusak pertumbuhan tanaman.

Selain efisiensi ruang, sistem tanam di bawah tegakan ini juga mengandalkan pola pemupukan yang seluruhnya alami. Serasah atau penumpukan dedaunan kering, ranting, dan sisa tumbuhan lain yang berada di atas permukaan tentu bermanfaat sebagai pupuk alami terlebih bagi tanaman seperti pohon kopi.

Selain itu, budidaya ini juga menghadirkan ketahanan yang baik, terlebih ketika memasuki musim kemarau panjang. Suhadi mengungkapkan, rimbunnya daun dari pohon- pohon penaung sangan membantu melindungi tanaman dibawahnya dari ancaman kemarau ekstrem.

Hal tersebut, membuat tanaman di bawah tegakan, lebih terjaga kelembapannya.

Sementara itu, menghadapi musim kemarau ini, berbagai upaya antisipasi dilakukan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kolaborasi dan koordinasi terus dilakukan antara Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah daerah, pemadam kebakaran, serta pembentukan satuan tugas (satker) kesiapsiagaan di tingkat lokal.

“ Selain itu, juga aktivitas petani yang rutin mengelola kawasan hutan bawah tegakan secara tidak langsung turut membantu pengawasan kawasan dari potensi titik api. Kehadiran KTH Anggat Tani Lestari di lapangan menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan lantai hutan dan melaporkan potensi bahaya kebakaran secara cepat, terlebih di wilayah Desa Tumbuk, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan,” ujar Suhadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....