Geliat Positif Petani Kopi di Pacitan, Tingkatkan Perekonomian
- 31 Jul 2026 23:35 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Pengembangan hasil hutan non kayu kini menjadi salah satu tumpuan utama dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan di Kabupaten Pacitan. Komoditas kopi yang ditanam di bawah tanaman tegakan telah menjadi fokus utama lainnya selain dari hasil kayu semata.
Penyuluh Kehutanan Ahli Muda Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Pacitan, Suhardi, S.P.,M.M., M.P., mengungkapkan saat diwawancara RRI Madiun, bahwa komoditas kopi telah mampu meningkatkan geliat ekonomi masyarakat.
“Jadi melalui program pendampingan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, komoditas kopi yang ditanam di bawah tegakan pohon hutan mulai menunjukkan geliat positif dan berdaya saing tinggi,” ucap Suhardi.
Penguatan sektor non kayu, khususnya budidaya tanaman kopi, menjadi prioritas strategis untuk memberdayakan kelompok tani hutan (KTH) di kawasan pegunungan Pacitan. Salah satu wilayah yang menjadi sentra pengembangan kopi berada di Desa Tumpuk, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan.
Lokasinya terletak pada ketinggian 700 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketua KTH Anggiat Tani Lestari, Suyatno menjelaskan terkait kondisi wilayah, desa Tumpuk memiliki iklim dan geografis yang sangat ideal untuk pertumbuhan tanaman kopi jenis Arabika.
“Jadi di desa Tumpuk ini, ketinggiannya itu sekitar 700 sampai 1.200 mdpl, sehingga banyak ditemukan atau cocok untuk tanaman kopi untuk varietas Arabika,” ungkapnya
Lebih lanjut, Ketua KTH Anggat Tani Lestari, Suyatno juga mengungkapkan bahwa budidaya kopi di wilayahnya, didominasi oleh varietas langka Java typica. “Paling banyak Java typica, varietas turunan Arabika ini juga merupakan peninggalan tanaman lama yang terbukti adaptif serta mampu menghasilkan cita rasa khas dan ketebalan rasa yang unik bagi para penikmat kopi,” ucap Suyatno kepada RRI Madiun.
Sementara itu, pengolahan kopi di Desa Tumpuk telah dimulai secara intensif sejak tahun 2021. Meskipun sempat menghadapi tantangan terkait kualitas hasil olahan petani yang belum standar, sinergi antara KTH dan dinas terkait secara bertahap berhasil membenahi sistem pembibitan, tata kelola tanam, hingga penanganan pascapanen.
Untuk mengoptimalkan nilai jual, para petani kini terus diedukasi agar beralih dari pola panen campur ke sistem petik merah atau yang sudah matang. Langkah pemilahan atau grading antara biji kopi matang dan biji kopi hijau terbukti sangat menentukan aroma serta cita rasa akhir saat dikonsumsi.
Dampak perbaikan kualitas ini berbanding lurus dengan nilai ekonomi yang diterima petani. Biji kopi mentah atau green bean siap roasting dari hasil petik hijau dihargai sekitar Rp. 60.000 - Rp. 65.000 per kilogram. Sedangkan, biji kopi petik merah sempurna, mampu mencapai harga Rp. 80.000 - Rp.90.000 per kilogram.
Suhadi optimistis bahwa prospek budidaya kopi di Pacitan sangat cerah karena pasarnya yang terus berkembang. Pihaknya mengajak seluruh masyarakat dan kelompok tani hutan untuk terus mengoptimalkan lahan yang ada, mengingat komoditas kopi memiliki nilai ekonomi yang stabil dan berkelanjutan jika dikelola dengan teknik budidaya yang benar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....