Bumi Tak Lagi Diam, Manusia Masih Tak Mau Berubah
- 07 Sep 2026 07:36 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Banjir dan longsor di Sumatera belum hilang dari ingatan. Gempa mengguncang Nusa Tenggara, aktivitas Anak Gunung Krakatau kembali menjadi perhatian, sementara kebakaran di Kalimantan menambah panjang catatan bencana yang terjadi di negeri ini. Peristiwa datang silih berganti. Rumah rusak, jalan terputus, warga mengungsi, hutan terbakar, lalu bantuan berdatangan.
Kita berduka setiap kali musibah terjadi. Namun setelah keadaan mulai tenang, perhatian ikut surut. Kita kembali menjalani rutinitas sampai peristiwa serupa datang lagi dan pertanyaan lama kembali terdengar: mengapa ini terus terjadi?
Tidak semua kejadian dapat dicegah. Gempa tidak bisa dihentikan, begitu pula aktivitas gunung api. Tetapi besarnya dampak bisa dikurangi. Di sinilah manusia perlu jujur melihat bagaimana lingkungan dikelola.
Hutan dibuka tanpa perhitungan, daerah resapan berubah menjadi permukiman, sungai menyempit, kawasan rawan tetap dibangun, sementara kebakaran hutan dan lahan kembali mengancam ketika kondisi kering. Ketika hujan deras memicu banjir, lereng runtuh atau api meluas, semuanya mudah disebut bencana alam. Padahal, kerusakan lingkungan dan keputusan manusia ikut menentukan seberapa besar akibat yang ditimbulkan.
Kita juga punya kebiasaan menunggu masalah muncul. Setelah banjir, sungai baru diperhatikan. Sesudah longsor, kondisi lereng mulai dibicarakan. Ketika hutan terbakar, barulah persoalan lahan dan pengawasan dipersoalkan. Ketika rumah warga hancur, relokasi menjadi wacana.
Mengapa harus selalu menunggu korban?
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar memastikan pembangunan tidak mengorbankan keselamatan. Tata ruang harus menjadi pedoman nyata, bukan sekadar dokumen. Kawasan lindung mesti dijaga, pembukaan lahan diawasi, dan pembangunan di wilayah rawan harus melalui pertimbangan yang ketat.
Masyarakat pun tidak bisa terus melempar seluruh persoalan kepada pemerintah. Membuang sampah ke sungai, membuka lahan sembarangan, membakar hutan atau mengabaikan risiko lingkungan adalah kebiasaan yang harus diperbaiki.
| Baca juga: Kenapa Sulit Lepas dari HP? |
Dalam kehidupan beragama, musibah seharusnya menjadi ruang untuk bercermin. Kita tidak perlu tergesa-gesa menyebut setiap bencana sebagai azab. Bisa jadi ia ujian, peringatan, atau konsekuensi dari tindakan manusia. Yang jelas, manusia diberi amanah untuk menjaga bumi, bukan mengeksploitasinya tanpa batas.
Karena itu, setiap kejadian tidak boleh berhenti pada evakuasi dan bantuan. Harus ada evaluasi. Mengapa terjadi? Apa yang bisa dicegah? Kebijakan mana yang perlu diperbaiki?
Jangan sampai pola lama terus berulang: bencana datang, korban dievakuasi, bantuan disalurkan, lalu persoalan dilupakan. Sementara hutan tetap terancam, sungai tidak dibenahi, kawasan rawan terus dihuni, dan masyarakat kembali hidup dalam ancaman.
Jika cara seperti ini dipertahankan, kita bukan sedang mencegah bencana. Kita hanya menunggu giliran berikutnya.
Bumi memiliki hukum alamnya sendiri. Manusia tidak akan mampu mengubahnya sesuka hati. Yang bisa dilakukan adalah belajar menghormati alam, memperbaiki kebijakan dan mengubah perilaku.
Mungkin karena itu, ketika bumi bergerak, air meluap, tanah runtuh, hutan terbakar atau gunung kembali aktif, jangan hanya bertanya, Apa yang sedang terjadi?
Kita juga perlu bertanya, Apa yang telah kita lakukan?
Sebab yang paling mengkhawatirkan bukan bumi yang terus bergerak, melainkan manusia yang menyaksikan semuanya tetapi tetap tidak mau berubah.
Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Advokat LBH Tani Nusantara
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....