Kapan Negeri Ini Menjadi Baldatun Tayyibatun?
- 05 Sep 2026 11:09 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara - Entah kapan negeri ini benar-benar menjadi negeri yang baik, aman, adil, sejahtera, dan diberkahi Tuhan.
Pertanyaan itu mungkin pernah terlintas di benak banyak rakyat yang setiap hari harus berjuang menghadapi kerasnya kehidupan. Negeri ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, laut yang luas, serta sumber daya manusia yang besar. Namun, mengapa masih begitu banyak rakyat hidup dalam ketidakpastian?
Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr bukan sekadar ungkapan indah. Ia menggambarkan sebuah negeri yang baik, masyarakatnya sejahtera, keadilan menjadi fondasi, dan keberkahan Tuhan menyertai kehidupan rakyatnya.
Untuk mencapainya tentu tidak cukup dengan slogan, pidato, seremoni, ataupun janji politik. Diperlukan kerja nyata, kejujuran, keadilan, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat luas.
Rakyat Ingin Kepastian Hidup
Bagi rakyat kecil, pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik. Mereka merasakannya dari harga kebutuhan pokok, ketersediaan pekerjaan, pendapatan, biaya pendidikan, kesehatan, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga.
Pedagang berharap dagangannya laku. Petani ingin hasil panennya dihargai layak. Nelayan membutuhkan biaya operasional yang terjangkau. Buruh membutuhkan pekerjaan yang pasti. Anak-anak muda membutuhkan kesempatan untuk bekerja dan berkembang.
Mereka tidak membutuhkan pidato panjang tentang kesejahteraan.
Mereka membutuhkan kesempatan hidup yang lebih baik.
Hukum Harus Berlaku Setara
Negeri yang baik tidak mungkin berdiri di atas hukum yang dirasakan tidak adil.
Hukum harus menjadi pelindung semua orang, bukan sesuatu yang terasa tajam kepada yang lemah tetapi tumpul terhadap mereka yang memiliki kekuasaan, uang, atau jaringan.
Prinsip equality before the law harus benar-benar diwujudkan. Yang kuat harus tunduk kepada hukum. Yang kaya harus tunduk kepada hukum. Pejabat harus tunduk kepada hukum. Dan rakyat kecil harus memperoleh perlindungan yang sama.
Jika keadilan dapat dipengaruhi oleh kekuasaan dan kekayaan, kepercayaan rakyat kepada negara akan perlahan terkikis.
Jangan Biarkan Oligarki Menguasai Negara
Keresahan lain muncul ketika kelompok yang memiliki modal, kekuasaan, dan jaringan politik dianggap memiliki akses yang lebih mudah terhadap berbagai kepentingan.
Sementara rakyat biasa harus berjuang sendiri, mencari modal, menghadapi birokrasi, dan menanggung risiko kehidupannya sendiri.
Negara seharusnya bukan kendaraan bagi segelintir orang untuk memperbesar kekayaan dan kekuasaan.
Negara adalah milik rakyat.
Kekuasaan adalah amanah.
Jabatan bukan fasilitas untuk menikmati keistimewaan, melainkan tanggung jawab untuk melayani.
Politik Harus Kembali kepada Rakyat
Politik seharusnya menjadi jalan menghadirkan kebaikan bersama.
Ukuran keberhasilan politik bukan seberapa banyak jabatan yang diperoleh atau seberapa megah seremoni yang digelar. Ukurannya adalah apakah rakyat menjadi lebih aman, lebih sejahtera, lebih mudah mendapatkan pelayanan, dan memiliki harapan terhadap masa depan.
Pemimpin seharusnya gelisah ketika rakyat kesulitan. Pejabat seharusnya tidak nyaman ketika ketidakadilan masih terjadi.
Sebab kekuasaan pada akhirnya bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi juga kepada Allah.
Negeri Baik Tidak Lahir dari Seremoni
Negeri yang baik dibangun dengan kejujuran, hukum yang adil, pemimpin yang amanah, birokrasi yang bersih, pendidikan bermutu, serta ekonomi yang memberikan kesempatan kepada rakyat kecil.
Keberkahan tidak cukup hanya diminta dalam doa.
Keberkahan harus diusahakan melalui perilaku yang benar.
Jika korupsi dianggap biasa, nepotisme dibiarkan, ketidakjujuran ditoleransi, dan kepentingan kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan masyarakat, maka sulit berharap lahir sebuah negeri yang benar-benar baik.
Jangan Jadikan Rakyat Sekadar Objek
Rakyat jangan hanya dicari ketika pemilu. Jangan hanya didatangi ketika membutuhkan suara. Setelah kekuasaan diperoleh, rakyat tidak boleh dilupakan.
Negara harus hadir ketika petani kesulitan menjual hasil panen. Negara harus hadir ketika anak-anak membutuhkan pendidikan bermutu. Negara harus hadir ketika masyarakat mencari pekerjaan dan ketika rakyat kecil berhadapan dengan ketidakadilan.
Kekuatan sebuah negara bukan hanya terlihat dari gedung megah dan proyek besar, tetapi dari bagaimana negara memperlakukan rakyatnya yang paling lemah.
Entah Kapan...
Entah kapan negeri ini benar-benar menjadi Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr.
Entah kapan rakyat kecil dapat menjalani hidup tanpa terlalu takut menghadapi hari esok.
Entah kapan hukum benar-benar dirasakan adil oleh semua lapisan masyarakat.
Entah kapan politik sepenuhnya menjadi pengabdian.
Namun kita tidak boleh kehilangan harapan.
Negeri yang baik tidak lahir hanya dari seorang pemimpin. Ia lahir dari pemimpin yang amanah, hukum yang adil, institusi yang kuat, masyarakat yang berintegritas, serta rakyat yang berani menjaga harapan dan memperbaiki keadaan.
Semoga suatu hari nanti kita tidak hanya mengucapkan Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafūr sebagai doa, tetapi benar-benar merasakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Negeri tempat rakyat kecil tidak takut menghadapi hari esok.
Negeri tempat hukum tidak mengenal kasta.
Negeri tempat kekuasaan tidak menjadi alat memperkaya diri.
Negeri tempat politik kembali menjadi pengabdian.
Negeri tempat kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Karena rakyat tidak sedang meminta kemewahan.
Rakyat hanya ingin hidup layak, diperlakukan adil, dan memiliki harapan terhadap masa depan.
Oleh: Zulkifli
Kepala SMAN 1 Lhoksukon
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....