AI Tidak Bisa Gantikan Peran Guru

  • 02 Sep 2026 11:32 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe -

Setiap zaman memiliki cara belajarnya sendiri. Jika dulu ilmu dicari melalui lembar demi lembar buku/kitab di rak-rak perpustakaan dan transmisi keilmuan, kini generasi muda cukup mengetikkan beberapa kata di layar gawai atau komputer. Perubahan ini tidak mungkin dihindari. Zaman betul-betul telah berubah. Transformasi digital nyata mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, termasuk dalam mempelajari agama.

Seiring dengan perannya, pendidikan agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan ruh dan nilai-nilai luhurnya. Peluncuran 40 buku digital Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti oleh Kementerian Agama beberapa hari lalu merupakan bagian dari ikhtiar tersebut. Kehadiran buku digital, kelas interaktif, perpustakaan elektronik, bank soal, asesmen pembelajaran, hingga asisten berbasis Artificial Intelligence (AI) bukanlah upaya menggantikan guru. Sebaliknya, teknologi dihadirkan untuk memperluas akses belajar, memperkaya pengalaman peserta didik, dan memperkuat proses pembelajaran agama.

Kita harus memahami bahwa anak-anak hari ini adalah generasi digital. Mereka terbiasa belajar secara cepat, interaktif, dan personal. Jika pendidikan agama tetap bertahan dengan pendekatan lama tanpa memanfaatkan teknologi, maka yang tertinggal bukanlah teknologinya, melainkan proses pendidikannya. Agama harus hadir dalam bahasa yang dipahami generasi zamannya, tanpa mengurangi kedalaman pesan yang disampaikannya.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa kecerdasan buatan memiliki batas. AI dapat membantu menemukan informasi, menjelaskan konsep, atau mempercepat proses belajar. Akan tetapi, AI tidak dapat menggantikan keteladanan seorang guru. Ia tidak memiliki kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup, tidak mampu menanamkan adab melalui keteladanan, dan tidak dapat membangun ikatan batin antara pendidik dan peserta didik. AI tidak mampu memberikan "personal touch" kepada peserta didik.

Pendidikan agama pada hakikatnya bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga transformasi kepribadian. Perubahan akhlak yang semakin baik. Dalam tradisi Islam, ilmu selalu berjalan beriringan dengan adab. Seorang murid tidak hanya belajar dari isi kitab, tetapi juga dari akhlak gurunya. Karena itu, pemanfaatan AI harus ditempatkan sebagai wasilah, bukan tujuan.

Teknologi adalah alat untuk memudahkan belajar, sedangkan pembentukan karakter tetap membutuhkan sentuhan manusia yang penuh kasih sayang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab.

Inilah semangat yang ingin dibangun melalui Smart PAI. Teknologi dimanfaatkan agar pembelajaran agama menjadi lebih mudah diakses, lebih menarik, dan lebih relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Sementara substansi ajaran tetap bersumber pada nilai-nilai Islam yang autentik, moderat, dan berorientasi pada pembentukan akhlak mulia.

Masa depan pendidikan agama bukanlah memilih antara guru atau AI. Masa depan pendidikan adalah menghadirkan keduanya dalam sinergi yang saling menguatkan. AI menghadirkan kecepatan dan kemudahan, sedangkan guru menghadirkan hikmah dan keteladanan. Ketika teknologi dipandu oleh nilai-nilai agama, dan pendidikan agama memanfaatkan teknologi secara bijaksana, kita tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara digital, tetapi juga matang secara spiritual dan kokoh secara moral.

Di situlah pendidikan agama akan tetap relevan, bukan hanya untuk menjawab tantangan hari ini, tetapi juga untuk membangun peradaban masa depan.(oleh:Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA).

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....