Maulid 1448 H, Saatnya Aceh Belajar Mengurus Rakyat dari Umar bin Khattab

  • 26 Agt 2026 18:54 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Maulid Nabi Muhammad SAW semua kita memperbanyak selawat, menggelar ceramah atau menghadiri kenduri. Dan Lebih dari itu, Maulid semestinya menjadi kesempatan untuk melihat kembali akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan, termasuk bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan.

Dalam konteks Aceh, pesan tersebut terasa semakin relevan. Daerah ini memiliki kekayaan alam, emas, tambang, gas melimpah dengan sumber daya manusia juga baik, anggaran pembangunan serta kekhususan dalam menjalankan syariat Islam. Namun, di tengah berbagai potensi itu, masih banyak masyarakat yang menghadapi persoalan ekonomi, sulit memperoleh pekerjaan, daya beli yang terbatas, hingga pembangunan yang belum sepenuhnya dirasakan secara merata.

Kita kemudian teringat pada Umar bin Khattab, khalifah kedua dalam sejarah Islam yang memimpin pada 634–644 M. Ia dikenal dengan julukan Al-Faruq karena ketegasannya membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Namun, yang membuat namanya tetap dikenang bukan semata ketegasan, melainkan keberpihakannya kepada rakyat.

Ada kisah yang sangat sederhana tetapi dalam maknanya. Umar pernah berkeliling pada malam hari untuk melihat langsung keadaan rakyatnya. Ia tidak hanya mengandalkan laporan para pejabat. Ia ingin mengetahui sendiri apakah ada warga yang kelaparan, kesulitan atau membutuhkan pertolongan.

Dalam sebuah kisah yang sangat populer, Umar mendapati seorang ibu yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang menangis karena lapar. Umar pulang mengambil bahan makanan dari baitul mal dan membawanya sendiri. Ketika pembantunya hendak membantu membawa karung, Umar menolak. Ia mengatakan, kurang lebih, bahwa apakah pembantunya akan menanggung bebannya pada hari kiamat?

Semangat seperti inilah yang penting untuk direnungkan Aceh pada Maulid 1448 H. Dan pemimpin seperti ini yang dibutuhkan di Aceh, apakah sudah tersedia di Aceh, tentu jawaban semua ada pada pejabat yang bisa menjawab.

Kita tidak sedang berbicara untuk menghadirkan Umar bin Khattab dalam bentuk yang sama di zaman sekarang. Zaman, sistem pemerintahan dan persoalan ekonomi sudah berubah. Namun prinsip kepemimpinannya tetap relevan: anggaran adalah amanah, jabatan adalah tanggung jawab, sementara kesejahteraan masyarakat harus menjadi tujuan utama.

Jika prinsip itu benar-benar diterapkan, pembangunan Aceh tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang selesai atau besarnya anggaran yang terserap. Ukuran yang lebih penting adalah apakah petani memperoleh kehidupan yang layak, nelayan semakin sejahtera, pelaku UMKM memiliki akses pasar, anak muda mendapatkan pekerjaan dan keluarga miskin memiliki kesempatan untuk keluar dari kesulitan.

Aceh sebenarnya memiliki modal untuk menjadi daerah yang kuat secara ekonomi. Yang dibutuhkan bukan hanya program baru, tetapi keberanian memperbaiki cara mengelola yang sudah ada. Kebocoran anggaran harus ditutup, pelayanan dipermudah, investasi diarahkan untuk membuka lapangan kerja dan kekayaan alam harus memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Di sinilah Maulid memiliki makna yang lebih luas. Meneladani Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada ritual, tetapi menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sosial dan pemerintahan. Umar bin Khattab menunjukkan bagaimana nilai kenabian diterjemahkan ke dalam kepemimpinan: sederhana, tegas, adil dan merasa takut ketika amanah rakyat tidak ditunaikan.

Aceh tidak kekurangan orang pintar. Tidak pula kekurangan aturan dan program pembangunan. Yang perlu terus diperkuat adalah keberanian menjadikan keadilan sebagai ukuran keberhasilan.

Maulid 1448 H kiranya menjadi pengingat bagi siapa pun yang memegang jabatan bahwa kursi kekuasaan bukan tempat untuk menikmati fasilitas, melainkan tempat mempertanggungjawabkan amanah.

Sebab rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara tentang kesejahteraan. Mereka membutuhkan kebijakan yang membuat kesejahteraan itu benar-benar terasa di meja makan, di sawah, di pasar dan di rumah-rumah mereka.

Mungkin inilah cara paling nyata memperingati Maulid: bukan hanya mengingat bagaimana Nabi dan para sahabat memimpin, tetapi berusaha menghadirkan nilai kepemimpinan mereka dalam kehidupan Aceh hari ini.

(oleh: Dr.Bukhari.M.H.CM- Akademisi sekaligus anggota asosiasi BPD & LPMK Nasional).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....