Kecanduan TikTok Memperburuk Kesehatan Mental Generasi Muda

  • 13 Nov 2024 10:41 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe: Aplikasi media sosial Tiktok yang sangat populer sekarang ini, dirancang untuk menjadi sangat adiktif, terutama bagi pengguna yang masih berusia muda. Dilansir The New Republic, beberapa eksekutif TikTok disebut mengetahui potensi bahaya kecanduan yang ditimbulkan oleh TikTok. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan pengalaman pengguna dengan menggunakan algoritma yang canggih, mereka juga menyadari bahwa fitur-fitur ini memanipulasi kebiasaan pengguna, membuat mereka terus-menerus menggunakan aplikasi. Konten yang disajikan oleh TikTok dapat memengaruhi kesehatan mental, meningkatkan kecemasan, dan memperburuk perasaan isolasi sosial, terutama di kalangan pengguna muda.

TikTok didesain dengan fitur yang sangat adiktif yang bisa memengaruhi kesehatan mental penggunanya. Dibalik hiburan yang mudah didapat, ada algoritma yang bekerja untuk menjaga pengguna terus-menerus membuka aplikasi. Algoritma TikTok, yang sangat canggih, mampu mempelajari preferensi pengguna dengan cepat dan memberikan rekomendasi konten yang sesuai dengan minat mereka. Ini membuat pengalaman pengguna sangat personal dan menarik, sehingga semakin sulit untuk berhenti menggunakan aplikasi.

Para eksekutif TikTok dan perusahaan induknya, ByteDance, mengetahui bahwa fitur-fitur ini berpotensi menyebabkan kecanduan, namun mereka tetap melanjutkan pengembangan platform dengan pendekatan ini. Hal itu mengingat tingginya tingkat keterlibatan pengguna berdampak positif sesuai yang diinginkan perusahaan. Para eksekutif juga tahu bahwa TikTok dapat memperburuk kondisi kesehatan mental pengguna, terutama di kalangan remaja yang rentan terhadap perasaan cemas, depresi, dan isolasi sosial.

Platform ini mendorong perilaku konsumsi berlebihan, di mana pengguna dapat menghabiskan berjam-jam dalam sehari hanya untuk menggulir video tanpa batasan waktu. Sebagian besar konten TikTok adalah video pendek yang dirancang untuk menarik perhatian dalam waktu singkat, membuat pengguna terus ingin menonton video berikutnya. Mekanisme "scrolling tanpa henti" ini adalah cara TikTok memastikan penggunanya tetap terikat dengan aplikasi untuk waktu yang lebih lama.

Masalah kesehatan mental yang ditimbulkan oleh penggunaan TikTok semakin jelas, terutama jika munculnya perasaan kecemasan dan perbandingan sosial. Ketika pengguna mengadaptasi standar kecantikan atau gaya hidup yang tidak realistis dalam konten yang mereka lihat. Dampak buruknya adalah muncul perasaan tidak puas dengan diri sendiri dan akhirnya meningkatkan stres. Selain itu, dampak buruk platform ini juga bisa muncul karena konten-konten yang mengarah pada perudungan (cyberbullying) serta penyebaran informasi yang merugikan pihak lain.

Secara keseluruhan, artikel yang dirilis The New Republic tersebut menyoroti bagaimana TikTok telah menciptakan ekosistem yang menguntungkan bagi perusahaan, namun disisi lain memberikan resiko serius terhadap kesejahteraan psikologis, terutama bagi penggunanya yang lebih muda. Kritik serius kepada pihak TikTok dalam hal kurangnya tanggung jawab akibat dampak negatif yang ditimbulkan, meskipun mereka tahu tentang potensi bahaya yang ditimbulkan oleh platform tersebut.

(Penulis: Nurul Marviza, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....