Literasi Meurajah di tengah Krisis Kesehatan.

  • 15 Mei 2026 08:07 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, isu kesehatan kembali menjadi kegelisahan publik. Biaya berobat yang dianggap semakin berat, pelayanan kesehatan yang dinilai belum merata, hingga meningkatnya kekhawatiran masyarakat miskin terhadap akses layanan medis membuat banyak orang mulai mencari alternatif pengobatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Dalam situasi seperti ini, tradisi meurajah dan seumeumbo kembali mendapat tempat di tengah masyarakat Aceh.

Fenomena tersebut bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Sejak dahulu, masyarakat Aceh memang mengenal praktik pengobatan berbasis doa dan pendekatan spiritual. Air dibacakan ayat Al-Qur’an, doa-doa dipanjatkan, lalu diberikan kepada orang sakit sebagai bagian dari ikhtiar penyembuhan. Dalam budaya Aceh, praktik ini dikenal dengan istilah meurajah atau seumeumbo.

Sebagian masyarakat masih meyakini bahwa ketenangan batin memiliki hubungan besar dengan kesembuhan seseorang. Karena itu, meurajah tidak hanya dipahami sebagai ritual tradisional, tetapi juga bentuk penguatan mental dan spiritual bagi orang yang sedang sakit atau mengalami tekanan hidup.

Dalam perspektif hukum Islam, praktik seperti ini pada dasarnya dapat dibenarkan selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat. Islam mengenal konsep ikhtiar dan tawakal secara bersamaan. Berobat adalah bentuk ikhtiar, sedangkan doa merupakan bentuk tawakal kepada Allah SWT. Bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah mengajarkan ruqyah dan doa-doa penyembuhan sebagai bagian dari pengobatan spiritual.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” Hadis ini menjadi dasar bahwa praktik pengobatan berbasis doa diperbolehkan selama menggunakan ayat Al-Qur’an, doa yang baik, serta tidak mengandung unsur meminta bantuan selain kepada Allah SWT.

Karena itu, meurajah yang berisi doa, zikir, atau bacaan ayat suci untuk memohon kesembuhan pada hakikatnya merupakan bagian dari tradisi spiritual yang dapat diterima dalam Islam. Bahkan dalam konsep maqashid syariah, menjaga jiwa (hifz al-nafs) menjadi salah satu tujuan utama syariat. Artinya, segala bentuk ikhtiar yang bertujuan menjaga kesehatan dan keselamatan manusia pada prinsipnya memiliki nilai kemaslahatan.

Namun di sinilah pentingnya literasi masyarakat. Jangan sampai praktik spiritual yang awalnya berbasis doa berubah menjadi tindakan yang bertentangan dengan syariat. Ketika mulai muncul unsur jampi-jampi yang tidak jelas, keyakinan terhadap benda tertentu, meminta bantuan makhluk gaib, atau meyakini seseorang memiliki kekuatan mutlak selain Allah, maka praktik tersebut dapat bergeser pada hal-hal yang dilarang dalam Islam.

Karena itu, masyarakat perlu dibekali pemahaman yang benar agar mampu membedakan antara meurajah yang bernilai doa dan penguatan spiritual dengan praktik-praktik mistis yang menyesatkan. Literasi ini penting agar masyarakat tidak mudah terjebak pada praktik supranatural yang justru merusak akidah.

Di era digital hari ini, tantangan tersebut semakin besar. Media sosial dipenuhi berbagai konten pengobatan instan yang kadang tidak memiliki dasar ilmu agama maupun medis yang jelas. Ada yang mengklaim mampu menyembuhkan segala penyakit dengan cara-cara tertentu, bahkan tidak sedikit yang menjadikan penderitaan orang sakit sebagai ladang bisnis.

Padahal Islam sendiri mengajarkan keseimbangan antara usaha lahiriah dan batiniah. Orang sakit dianjurkan berdoa, tetapi juga diperintahkan mencari pengobatan yang baik. Rasulullah SAW bersabda, “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.” Hadis ini menunjukkan bahwa pengobatan medis tetap penting dan tidak boleh ditinggalkan.

Karena itu, meurajah tidak boleh diposisikan sebagai pengganti total layanan kesehatan modern, melainkan sebagai pendamping spiritual dan psikologis bagi masyarakat. Dalam banyak kasus, ketenangan jiwa memang berpengaruh terhadap proses penyembuhan seseorang. Orang yang tenang dan optimis cenderung memiliki semangat hidup yang lebih baik dibanding mereka yang penuh tekanan dan ketakutan.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu membaca fenomena ini secara lebih bijak. Ketika masyarakat kembali ramai mendatangi pengobatan tradisional dan spiritual, ada pesan sosial yang sebenarnya sedang disampaikan rakyat: mereka membutuhkan layanan kesehatan yang murah, mudah dijangkau, dan manusiawi.

Masyarakat kecil sering berada dalam posisi sulit. Di satu sisi mereka sakit, di sisi lain mereka takut biaya pengobatan. Ada yang menunda berobat karena tidak memiliki uang transportasi, ada yang khawatir obat tidak ditanggung, bahkan ada yang merasa pelayanan kesehatan semakin rumit secara administrasi. Dalam kondisi seperti itu, meurajah menjadi pilihan yang terasa lebih dekat secara emosional dan sosial.

Aceh memiliki kekayaan budaya dan nilai religius yang tidak boleh hilang begitu saja. Tradisi meurajah dan seumeumbo lahir dari perpaduan agama, budaya, dan solidaritas sosial masyarakat. Yang perlu dilakukan hari ini bukan menghapus tradisi tersebut, tetapi memperkuat literasi agar masyarakat memahami batas antara ikhtiar spiritual, pengobatan medis, dan ajaran Islam yang benar.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal obat dan rumah sakit, tetapi juga tentang ketenangan jiwa dan harapan hidup. Dalam masyarakat Aceh, doa sering menjadi bagian dari kekuatan menghadapi sakit dan kesulitan. Karena itu, memperkuat literasi meurajah sejatinya bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga menjaga agar nilai-nilai spiritual tetap berjalan seiring dengan akal sehat, ilmu pengetahuan, dan prinsip-prinsip hukum Islam.

Oleh: Dr. Bukhari.M.H.CM- Advokat sekaligus mediator PMN.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....