Memori Palsu, Kenapa Otak Bisa Salah Mengingat?

  • 11 Apr 2026 23:45 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Ingatan sering dianggap sebagai rekaman akurat dari masa lalu. Namun dalam kenyataannya, memori manusia tidak bekerja seperti kamera yang menyimpan setiap detail secara utuh. Otak justru menyusun kembali ingatan setiap kali kita mengingatnya. Proses ini membuka peluang munculnya apa yang dikenal sebagai memori palsu.

Dalam kajian psikologi kognitif, memori dipahami sebagai proses konstruktif, bukan reproduktif. Artinya, setiap kali seseorang mengingat suatu peristiwa, otak tidak sekadar “memutar ulang”, tetapi juga mengisi bagian yang hilang dengan asumsi, pengalaman, dan informasi baru. Di sinilah potensi kesalahan mulai muncul.

Salah satu penyebab utama memori palsu adalah sugesti. Informasi yang diterima setelah suatu kejadian dapat memengaruhi bagaimana kejadian tersebut diingat. Misalnya, seseorang yang mendengar cerita tambahan atau pertanyaan yang mengarahkan dapat secara tidak sadar memasukkan detail yang sebenarnya tidak pernah terjadi ke dalam ingatannya.

Fenomena ini juga berkaitan dengan cara otak menyederhanakan informasi. Untuk menghemat energi, otak cenderung menyimpan inti dari sebuah peristiwa, bukan detail lengkapnya. Ketika detail tersebut diperlukan kembali, otak “mengisi kekosongan” berdasarkan pola yang dianggap masuk akal. Akibatnya, ingatan yang muncul bisa terasa sangat meyakinkan, meskipun tidak sepenuhnya akurat.

Berdasarkan berbagai kajian mengenai memori dan persepsi manusia yang dilansir dari berbagai sumber, memori palsu bukanlah hal yang jarang terjadi. Bahkan, dalam kondisi tertentu, seseorang dapat benar benar yakin terhadap ingatan yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap ingatan tidak selalu sejalan dengan kebenarannya.

Di era digital, risiko memori palsu menjadi semakin besar. Paparan informasi yang cepat, berulang, dan sering kali tidak terverifikasi dapat memengaruhi cara seseorang mengingat suatu peristiwa. Konten yang viral atau sering dilihat dapat terasa seperti pengalaman pribadi, padahal sebenarnya hanya hasil konsumsi informasi.

Memahami bahwa memori tidak selalu akurat membantu kita lebih kritis terhadap ingatan sendiri. Tidak semua yang diingat benar benar terjadi seperti yang kita bayangkan. Dengan kesadaran ini, manusia dapat lebih berhati hati dalam menilai pengalaman masa lalu, sekaligus lebih terbuka terhadap kemungkinan bahwa ingatan bisa saja keliru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....