Brain Rot, Saat Konten Medsos Diam-Diam Menggerus Otak
- 11 Jul 2026 10:08 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Di era media sosial yang bergerak serba cepat, jutaan video pendek, meme, hingga konten hiburan muncul setiap menit. Algoritma platform digital dirancang agar pengguna terus menggulir layar tanpa henti. Di balik kemudahan memperoleh hiburan tersebut, muncul istilah yang kini semakin populer, yaitu brain rot.
Istilah ini bahkan dinobatkan sebagai Oxford word of The Year 2024 karena dianggap mewakili kekhawatiran masyarakat terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital yang berlebihan.
Oxford mendefinisikan brain rot sebagai kondisi menurunnya kemampuan berpikir atau intelektual yang dipersepsikan terjadi akibat terlalu banyak mengonsumsi konten dangkal dan minim nilai, terutama di internet.
Meski bukan diagnosis medis, para ahli menilai fenomena ini layak menjadi perhatian. Paparan konten singkat yang terus-menerus membuat otak terbiasa menerima rangsangan instan. Akibatnya, seseorang lebih sulit mempertahankan fokus, membaca tulisan panjang, atau berpikir secara mendalam.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Indian Journal of Physiology and Allied Sciences menjelaskan bahwa konsumsi berlebihan terhadap konten digital, terutama video berdurasi pendek dan kebiasaan doomscrolling, berkaitan dengan menurunnya rentang perhatian, gangguan memori, berkurangnya kemampuan menganalisis, serta meningkatnya kerentanan terhadap misinformasi.
Dampak brain rot sering kali tidak disadari karena terjadi secara perlahan. Banyak orang merasa cepat bosan ketika harus membaca buku, mengikuti diskusi yang panjang, atau menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Di sisi lain, mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam menonton video berdurasi kurang dari satu menit. Pola ini dipengaruhi oleh sistem penghargaan di otak yang terus dirangsang oleh konten baru sehingga memunculkan keinginan untuk terus menggulir layar.
Para pakar menegaskan bahwa bukan media sosial yang menjadi musuh, melainkan pola penggunaan yang berlebihan dan tanpa kendali.
Fenomena ini menjadi semakin relevan seiring pesatnya perkembangan industri konten digital.
Kreator berlomba menghasilkan materi yang semakin singkat, sensasional, dan memancing perhatian demi mengejar tayangan. Akibatnya, kualitas informasi kerap dikalahkan oleh kecepatan konsumsi. Padahal, otak manusia tetap membutuhkan ruang untuk berpikir kritis, merenung, dan memproses informasi secara mendalam.
Karena itu, keseimbangan menjadi kunci. Media sosial tetap dapat memberikan manfaat sebagai sumber informasi, edukasi, dan hiburan apabila digunakan secara bijaksana.
Membatasi waktu layar, membaca buku, berdiskusi secara langsung, serta melatih konsentrasi melalui aktivitas tanpa gawai dapat membantu menjaga kesehatan kognitif.
Di tengah banjir informasi yang tak pernah berhenti, kemampuan memilih konten berkualitas bukan sekadar kebiasaan, melainkan investasi untuk menjaga kejernihan berpikir di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....