SMKN 3 Lhokseumawe Gelar Sharing Pendidikan Inklusi

  • 10 Jun 2026 13:31 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Guru-guru SMKN 3 Lhokseumawe mengikuti kegiatan sharing session mengenai pendidikan inklusi yang menghadirkan Kepala Sekolah SLB Negeri Aneuk Nanggroe, Samhudi, S.Pd., sebagai pemateri, Rabu, 10 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga pendidik dalam mengenali dan mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di satuan pendidikan umum. Dalam pemaparannya, Samhudi menjelaskan berbagai kategori ABK, mulai dari kesulitan belajar, gangguan komunikasi dan bahasa, autisme, hingga gangguan pendengaran dan penglihatan.

Selain teori, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai metode komunikasi yang dapat membantu proses interaksi dan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan diskusi pengalaman guru dalam menghadapi keragaman karakter peserta didik di sekolah.

Salah seorang guru SMKN 3 Lhokseumawe, Syarifah Safura, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut memberikan wawasan baru sekaligus membuka kesadaran pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.

"Kegiatan ini sangat menarik dan memantik rasa ingin tahu kami untuk mengenal berbagai bahasa serta alat yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan Anak Berkebutuhan Khusus. Kami juga menyadari masih banyak hal yang perlu dipelajari agar dapat memberikan layanan pendidikan yang tepat sesuai kebutuhan setiap anak," ujarnya.

Belajar huruf menulis huruf Braille

Menurut Syarifah Safura, pelatihan serupa perlu dilakukan secara lebih intensif dan berkelanjutan mengingat tidak semua guru memiliki latar belakang pendidikan khusus maupun pengalaman dalam menangani ABK.

Sementara itu, Samhudi menjelaskan bahwa identifikasi kondisi anak berkebutuhan khusus tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan memerlukan keterlibatan tenaga profesional seperti dokter spesialis anak maupun psikiater. Ia juga menegaskan bahwa proses pendampingan dan terapi harus dilakukan secara berkelanjutan agar perkembangan anak dapat terpantau dengan baik.

Lebih lanjut, Samhudi menyampaikan bahwa implementasi pendidikan inklusi merupakan amanat yang harus dijalankan oleh satuan pendidikan. Namun, keberhasilan pelaksanaannya memerlukan dukungan berupa peningkatan kompetensi guru serta ketersediaan tenaga pendamping yang memiliki keahlian khusus.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru SMKN 3 Lhokseumawe semakin memahami konsep pendidikan inklusi dan mampu menciptakan suasana belajar yang ramah, setara, serta memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh peserta didik untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....