Delapan Abad Pasai, Cahaya Al-Qur’an Tetap Menyala

  • 10 Sep 2026 22:32 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Aceh Utara — Malam mulai turun di Lhoksukon. Lampu-lampu perayaan Milad ke-800 Samudera Pasai menyala di kawasan Lapangan Landeng, tepat di depan Kantor Bupati Aceh Utara.

Namun, Kamis malam, 10 September 2026, panggung utama tidak hanya menawarkan kemeriahan. Dari sana, lantunan ayat suci Al-Qur’an perlahan memenuhi udara.

Suara para qari menggema. Setiap ayat dilantunkan dengan irama yang indah, membawa suasana malam ke dalam nuansa yang lebih khidmat.

Ratusan masyarakat yang datang seakan diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perayaan. Mata tertuju ke panggung, telinga menyimak bacaan Al-Qur’an, sementara suasana religius terasa semakin kuat.

Majelis Haflah Al-Qur’an dan Seulaweut menjadi salah satu agenda penting pada malam keempat rangkaian Milad ke-800 Samudera Pasai.

Bukan sekadar pertunjukan religi, haflah ini menjadi ruang untuk kembali mengingat bahwa dari bumi inilah pernah tumbuh salah satu pusat awal perkembangan Islam dan peradaban Islam di Nusantara.

Di tengah perayaan 800 tahun perjalanan sejarah Samudera Pasai, Al-Qur’an kembali ditempatkan di tengah masyarakat.

Ketika Sejarah Bertemu Syiar

Sejumlah qari dari Aceh, tingkat nasional hingga internasional tampil membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Di antaranya Datok Seri Teuku Syeh Zubaili, Tengku Drs. H. Muslim Ali, Tengku Muhammad Yanis, S.Pd.I., Tengku Bardi Ramli, Tengku H. Ibrahim Minsyari, S.Sos., serta Tengku Muhammad Faroq.

Majelis juga diwarnai lantunan selawat dan qasidah dalam bahasa Arab dan bahasa Aceh.

Tidak berhenti pada keindahan suara, masyarakat juga diajak memahami pesan yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an melalui syarahan atau tafsiran ayat yang disampaikan Tengku Samsul Bahri, M.H.I., Pimpinan Dayah LPI Dayah Miftahul Falah, Bintang Hu.

Majelis dipandu Datok Seri Teuku Syeh Zubaili, Anggota DPRK Aceh Utara Komisi I, yang turut menghidupkan suasana dengan pesan-pesan keagamaan.

Bagi masyarakat yang hadir, malam itu menjadi lebih dari sekadar agenda perayaan.

Ada pesan yang hendak disampaikan: bahwa memperingati delapan abad Samudera Pasai bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang diwariskan para indatu tetap hidup pada generasi hari ini.

Menghidupkan Kembali Semangat Para Indatu

Samudera Pasai memiliki jejak panjang dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Karena itu, lantunan Al-Qur’an di tengah peringatan 800 tahun menjadi simbol yang kuat.

Sejarah tidak hanya diceritakan melalui panggung dan pameran. Sejarah juga dihidupkan melalui syiar, adat, budaya dan nilai agama yang masih dipelihara masyarakat.

Tema Milad ke-800 Samudera Pasai, “Tajaga Adat, Tapeukong Syari’at”, seolah menemukan maknanya pada malam tersebut.

Adat dijaga. Syariat diteguhkan.

Di bawah langit Lhoksukon, ayat-ayat Al-Qur’an menggema dari bumi yang pernah menjadi bagian penting perjalanan peradaban Islam.

Pesan yang lahir pun sederhana, tetapi dalam: kejayaan masa lalu tidak cukup hanya dikenang.

Ia harus diteruskan.

Semangat mencintai Al-Qur’an harus tumbuh di rumah, di dayah, di sekolah, di tengah masyarakat dan terutama di hati generasi muda Aceh Utara.

Melalui haflah ini, masyarakat diharapkan semakin dekat dengan Al-Qur’an dan menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman dalam kehidupan.

Sebab, delapan abad Samudera Pasai bukan hanya cerita tentang waktu yang telah berlalu.

Ia adalah pengingat bahwa peradaban yang besar dibangun bukan hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan ilmu, iman, adat dan akhlak.

Dan malam itu, dari bumi Pasai, pesan tersebut kembali disampaikan melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....