Kesiapsiagaan Bencana Harus Menjadi Budaya Masyarakat

  • 27 Agt 2026 17:02 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Pidie Jaya - Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya Dr. Munawar Ibrahim, S.Kp., MPH, mengatakan kegiatan tersebut penting dilaksanakan karena Pidie Jaya merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi ancaman bencana geologi, termasuk gempa bumi dan tsunami.

Selain itu, masyarakat Pidie Jaya memiliki pengalaman langsung menghadapi gempa bumi 2016 dan hingga kini masih melakukan pemulihan dampak bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi “Kita mungkin tidak dapat mengetahui kapan gempa bumi akan terjadi, tetapi kita dapat mempersiapkan diri.

Karena itu, kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang dimulai dari keluarga, lingkungan masyarakat, gampong hingga seluruh unsur pemerintahan,” ujar Sekda Munawar saat menyampaikan sambutan Bupati.

Ia menambahkan bahwa Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mendorong dan sangat mendukung program tersebut penguatan kesiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami melalui peningkatan pengetahuan, pemahaman risiko, serta kemampuan merespons peringatan dini.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG) Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2026, yang digelar BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Besar di Aula I Kantor Bappeda Pidie Jaya, Rabu 26 Agustus 2026.


Menurut Munawar, Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami tidak boleh dipandang sekadar sebagai kegiatan sosialisasi, tetapi harus menjadi ruang pembelajaran bersama untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengenali potensi bahaya, memahami sistem peringatan dini, menentukan langkah evakuasi dan mengambil keputusan secara cepat ketika bencana terjadi.

Terlebih, berdasarkan pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PuSGeN) 2024, wilayah Pidie Jaya memiliki potensi ancaman dari sejumlah sesar aktif dangkal, di antaranya Sesar Panteraja, Sesar Pidie Jaya dan Sesar Samalanga-Sipopok, serta ancaman dari zona subduksi di laut

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada pemahaman di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh harus diteruskan kepada keluarga, sekolah, aparatur gampong dan komunitas, sehingga terbentuk masyarakat yang sadar risiko, siaga dan mampu menyelamatkan diri ketika bencana terjadi,” katanya.

Munawar juga menyampaikan apresiasi kepada BMKG, khususnya Stasiun Geofisika Kelas II Aceh Besar, atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Pemkab menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, BMKG, unsur keamanan, sekolah, tenaga kesehatan, aparatur gampong, media dan masyarakat merupakan kunci dalam membangun ketangguhan daerah.

Ke depan, sinergi tersebut diharapkan semakin diperkuat melalui pembentukan dan pengembangan Komunitas Siaga Bencana hingga tingkat gampong Kegiatan yang mengusung tema “Pahami Potensi dan Aksi Cepat Hadapi Multi-Bahaya untuk Mewujudkan Masyarakat Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045”.

Kegiatan juga diisi dengan simulasi singkat gempa bumi sebagai bagian dari upaya membangun respons cepat dan kesiapan menghadapi kondisi darurat. (Prokopim/Yuni).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....