Umur 25 Harus Sudah Jadi Apa?
- 22 Jul 2026 11:46 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - "Umur 25 kok masih bingung?" Kalimat seperti ini mungkin pernah terdengar, atau bahkan pernah kita ucapkan kepada diri sendiri. Di media sosial, usia 25 sering digambarkan sebagai titik ketika seseorang seharusnya sudah memiliki pekerjaan mapan, tabungan yang cukup, pasangan hidup, atau setidaknya arah hidup yang jelas.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Kalau melihat tokoh-tokoh dari serial dan film favorit, kita justru akan menemukan bahwa tidak ada satu "timeline" yang benar untuk semua orang.
| Baca juga: Kenapa Password Sulit Diingat? |
Dalam serial Friends, misalnya, Rachel Green memulai cerita dengan meninggalkan kehidupan yang sudah direncanakan untuknya. Ia kabur dari pesta pernikahannya, memulai pekerjaan dari bawah sebagai pelayan kafe, lalu perlahan menemukan karier yang benar-benar ia inginkan. Di usia yang tidak lagi remaja, Rachel justru masih belajar mengenal dirinya sendiri. Lain lagi dengan Ross Geller. Ia memang terlihat sukses sebagai seorang paleontolog, tetapi kehidupan pribadinya jauh dari kata sempurna. Perceraian, hubungan yang rumit, hingga berbagai kegagalan menunjukkan bahwa kesuksesan dalam satu aspek tidak selalu berarti semuanya berjalan mulus.
Kalau bergeser ke serial Bridgerton, Kate Sharma pada usia 25 tahun datang ke London bukan untuk mengejar cinta atau kehidupan mewah. Ia justru mengorbankan banyak keinginannya demi masa depan adiknya. Selama bertahun-tahun, Kate lebih sibuk memikul tanggung jawab daripada memikirkan dirinya sendiri. Baru ketika kehidupannya berubah, ia mulai belajar bahwa mengejar kebahagiaan pribadi juga bukanlah sebuah kesalahan.
Lain lagi dengan Andrea "Andy" Sachs dalam film The Devil Wears Prada. Setelah lulus kuliah, di umur 25 tahun Andy mendapatkan pekerjaan yang diimpikan banyak orang. Namun di balik karier yang tampak gemilang, ia justru mulai mempertanyakan apakah kesuksesan yang sedang diraihnya benar-benar sesuai dengan nilai dan kehidupan yang ia inginkan. Perjalanannya menunjukkan bahwa menemukan arah hidup terkadang sama pentingnya dengan mengejar pencapaian.
Cerita-cerita tersebut mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar berjalan lurus. Ada yang lebih dulu menemukan karier, tetapi masih mencari pasangan. Ada yang sudah berkeluarga, tetapi masih mencoba memahami dirinya sendiri. Ada pula yang masih merintis semuanya dari awal. Menurut psikolog perkembangan Jeffrey Arnett, masa usia sekitar 18 hingga akhir 20-an sering disebut sebagai emerging adulthood, yaitu fase ketika banyak orang masih mengeksplorasi pekerjaan, hubungan, dan identitas diri. Dengan kata lain, merasa belum "jadi siapa-siapa" di usia 25 bukanlah sesuatu yang aneh.
Mungkin, tekanan terbesar justru datang dari kebiasaan membandingkan garis waktu hidup kita dengan orang lain. Padahal, kita hanya melihat potongan cerita mereka, bukan seluruh proses yang mereka jalani. Jadi, kalau hari ini kamu berusia 25 dan merasa belum mencapai semua target yang pernah dibayangkan, itu tidak berarti kamu terlambat. Bisa jadi, kamu hanya sedang berada di bab yang berbeda.
Karena hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai. Yang terpenting adalah terus bergerak menuju cerita yang memang ingin kamu tulis sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....