Kenapa Minat Baca Masih Jadi Masalah di Era Smartphone?
- 27 Agt 2026 11:10 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kemudahan mengakses informasi melalui smartphone belum otomatis meningkatkan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia. Di tengah penggunaan internet dan perangkat digital yang semakin luas, kemampuan membaca tetap menghadapi tantangan, terutama dalam memahami informasi secara mendalam.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penggunaan internet di Indonesia terus meningkat. Pada 2024, persentase penduduk berumur 5 tahun ke atas yang mengakses internet dalam tiga bulan terakhir mencapai 72,78 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Besarnya akses tersebut membuat informasi semakin mudah diperoleh. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak selalu berarti masyarakat membaca informasi tersebut secara utuh.
Hal tersebut menjadi penting karena membaca bukan hanya aktivitas melihat atau menerima informasi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan memahami, mengevaluasi dan menggunakan informasi.
Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor membaca Indonesia tercatat 359 poin, masih berada di bawah rata-rata negara OECD sebesar 472 poin. Hasil tersebut menempatkan kemampuan membaca siswa Indonesia pada posisi yang masih perlu diperkuat.
Data PISA juga menunjukkan persoalan literasi tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar pertanyaan apakah seseorang sering membaca atau tidak. Kemampuan memahami teks, menarik kesimpulan dan mengevaluasi informasi menjadi bagian penting dari literasi membaca.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks di tengah perubahan pola konsumsi informasi melalui smartphone.
Pengguna smartphone dapat menerima ratusan informasi dalam satu hari melalui media sosial, aplikasi pesan dan platform berita. Informasi hadir dalam bentuk teks pendek, video, gambar maupun notifikasi yang terus berganti.
Pola tersebut berbeda dengan membaca buku atau artikel panjang yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih lama.
Sejumlah penelitian mengenai kebiasaan membaca digital menunjukkan bahwa perangkat digital dapat memberikan akses informasi yang lebih luas, tetapi pola membaca melalui layar juga dapat mendorong pembacaan yang lebih cepat dan tidak selalu mendalam.
Dalam konteks ini, persoalannya bukan smartphone sebagai perangkat, melainkan bagaimana perangkat tersebut digunakan.
Smartphone dapat menjadi alat untuk membaca buku digital, jurnal, berita dan berbagai sumber pengetahuan. Namun, perangkat yang sama juga menyediakan konten hiburan yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna melalui aliran informasi yang tidak berhenti.
Akibatnya, seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan smartphone tanpa membaca satu teks secara mendalam.
Fenomena tersebut dapat dilihat dari perbedaan antara akses informasi dan literasi informasi.
Akses informasi berarti seseorang mampu menemukan dan menerima informasi. Sementara literasi informasi membutuhkan kemampuan untuk memahami isi, membandingkan sumber, mengenali informasi yang keliru dan mengambil kesimpulan berdasarkan bukti.
Di era media sosial, kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena tidak semua informasi yang muncul di layar memiliki tingkat akurasi yang sama.
Bagi pelajar dan generasi muda, persoalan tersebut juga berkaitan dengan proses pembelajaran. Kemampuan membaca teks panjang tetap dibutuhkan untuk memahami buku pelajaran, jurnal, dokumen akademik dan materi yang membutuhkan konsentrasi.
Penelitian pendidikan menunjukkan bahwa lingkungan membaca dan kebiasaan membaca di rumah maupun sekolah berhubungan dengan perkembangan kemampuan literasi. Karena itu, peningkatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat digital.
Perlu ada pembiasaan membaca yang mendorong seseorang untuk memahami isi bacaan, berdiskusi dan mengevaluasi informasi yang diperoleh.
Di sisi lain, smartphone sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari solusi.
Buku digital, perpustakaan daring, aplikasi pembelajaran dan berbagai sumber pengetahuan memungkinkan masyarakat memperoleh bahan bacaan tanpa harus datang ke perpustakaan secara fisik.
Persoalannya adalah bagaimana teknologi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas aktivitas membaca, bukan hanya memperbanyak jumlah informasi yang dikonsumsi.
Dari perspektif penelitian, hubungan antara smartphone dan minat baca dapat diuji melalui sejumlah variabel, seperti durasi penggunaan perangkat, jenis konten yang dikonsumsi, frekuensi membaca buku, durasi membaca teks panjang dan kemampuan memahami informasi.
Penelitian juga dapat membedakan penggunaan smartphone untuk membaca dan belajar dengan penggunaan untuk hiburan dan media sosial.
Dengan pendekatan tersebut, penggunaan smartphone tidak langsung dianggap sebagai penyebab rendahnya minat baca. Sebaliknya, penelitian dapat melihat bagaimana pola penggunaan perangkat memengaruhi kebiasaan membaca.
Data PISA menunjukkan bahwa persoalan kemampuan membaca masih menjadi tantangan bagi Indonesia, sementara akses masyarakat terhadap internet terus meningkat.
Kondisi tersebut menghasilkan sebuah paradoks: masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi kemudahan memperoleh informasi belum tentu membuat kemampuan memahami informasi ikut meningkat.
Karena itu, tantangan literasi di era smartphone bukan lagi hanya bagaimana membuat masyarakat mendapatkan bahan bacaan.
Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat mau membaca, mampu memahami, dan terbiasa memeriksa informasi sebelum mempercayainya.
Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan membaca secara mendalam justru menjadi semakin penting. Smartphone dapat menjadi bagian dari masalah, tetapi jika digunakan dengan tepat, perangkat yang sama juga dapat menjadi salah satu alat untuk memperkuat budaya membaca.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....