Sampah Plastik Masuk Laut, Seberapa Besar Ancaman bagi Pesisir Aceh?

  • 27 Agt 2026 11:11 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Sampah plastik menjadi salah satu persoalan yang mengancam ekosistem pesisir Aceh. Tidak hanya terlihat sebagai sampah yang menumpuk di garis pantai, plastik yang masuk ke laut juga dapat terfragmentasi menjadi mikroplastik dan berpotensi mencemari perairan.

Sejumlah penelitian di Aceh menunjukkan bahwa plastik merupakan salah satu jenis sampah laut yang paling dominan ditemukan di kawasan pesisir.

Penelitian di perairan Banda Aceh dan Aceh Besar yang dilakukan pada Januari hingga Maret 2024 menemukan empat bentuk mikroplastik, yaitu fragmen, fiber, film dan pellet. Sampel diambil dari tiga lokasi, yakni Gampong Jawa, Alue Naga dan Krueng Raya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak berhenti ketika sampah tidak lagi terlihat dalam bentuk botol, kantong atau kemasan. Plastik yang berada di lingkungan laut dapat mengalami proses degradasi dan berubah menjadi partikel berukuran lebih kecil.

Penelitian lain di kawasan Bluka Teubai, Aceh Utara, yang dilakukan pada Mei 2024 menemukan plastik sebagai jenis sampah anorganik yang paling dominan. Kepadatannya mencapai 2,24 item per meter persegi, dengan kepadatan berdasarkan berat mencapai 99,94 gram per meter persegi. Plastik juga menyumbang sekitar 96,97 persen dari jumlah sampah anorganik yang ditemukan dalam penelitian tersebut.

Kondisi serupa juga ditemukan di wilayah Aceh Barat. Penelitian di Pantai Lhok Bubon, Kecamatan Samatiga, menunjukkan sampah plastik mendominasi komposisi sampah laut yang ditemukan. Pada salah satu stasiun pengamatan, plastik keras mencapai 53,32 persen dari keseluruhan sampah yang ditemukan.

Sementara itu, penelitian di Pantai Pulo Sarok, Aceh Singkil, yang dilakukan pada Agustus 2025 menemukan sampah plastik mencapai 61,27 persen dari total sampah anorganik yang ditemukan, dengan jumlah 2.307 item dan kepadatan sekitar 2,59 item per meter persegi. Penelitian tersebut juga menemukan jumlah sampah anorganik cenderung meningkat pada akhir pekan dan mengaitkannya dengan meningkatnya aktivitas wisata.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa pencemaran plastik di pesisir Aceh memiliki pola yang tidak hanya berkaitan dengan keberadaan sampah di pantai, tetapi juga dengan aktivitas manusia di kawasan pesisir.

Penelitian di Banda Aceh sebelumnya juga menemukan dominasi plastik dalam sampah laut. Studi yang dilakukan pada 2019 di kawasan Ulee Lheu dan Alue Naga mencatat plastik mencapai sekitar 92,2 persen dari sampah di pantai, sementara pada permukaan air persentasenya mencapai sekitar 51,4 persen.

Di kawasan muara Krueng Aceh, penelitian lain menemukan plastik mencapai sekitar 89 persen dari sampah yang mengapung di permukaan perairan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sungai dan kawasan muara dapat menjadi salah satu jalur masuk sampah dari daratan menuju laut.

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena sampah plastik yang masuk ke laut dapat terbawa arus dan berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Penelitian mengenai sampah laut di perairan Aceh bagian utara bahkan menemukan dugaan bahwa sebagian sampah dapat terbawa oleh arus laut dan jalur pelayaran dari wilayah lain.

Studi yang dilakukan pada masa peralihan monsun 2022 di sejumlah pantai Aceh menemukan plastik sebagai jenis sampah dengan kepadatan tertinggi, yakni sekitar 0,602 hingga 1,022 item per meter persegi. Peneliti juga menyebut perubahan arus selama periode peralihan monsun dapat berperan dalam perpindahan sampah laut.

Artinya, persoalan sampah plastik di pesisir tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan membersihkan pantai. Sampah yang sudah masuk ke laut dapat bergerak mengikuti arus, terdampar kembali di pantai atau terpecah menjadi partikel yang lebih kecil.

Dari sisi ekosistem, kondisi tersebut menjadi perhatian karena plastik dan mikroplastik dapat berinteraksi dengan berbagai organisme laut. Sampah yang berada di perairan juga berpotensi mengganggu kualitas habitat dan masuk ke dalam rantai makanan apabila tertelan oleh organisme laut.

Penelitian mengenai pencemaran mikroplastik di Aceh Barat pada 2024 menemukan 1.679 partikel mikroplastik dari sampel yang diperiksa, terdiri dari 540 fiber, 518 fragment, 598 film dan 23 pellet. Peneliti mengaitkan keberadaan mikroplastik tersebut dengan aktivitas masyarakat pesisir serta kawasan nelayan dan muara sungai yang berpotensi menjadi jalur masuk sampah ke laut.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ukuran sampah menjadi bagian penting dalam melihat persoalan pencemaran laut. Ketika sampah plastik berubah menjadi mikroplastik, persoalannya menjadi lebih sulit terlihat dan dikendalikan karena partikel tersebut tidak lagi mudah dikumpulkan melalui kegiatan pembersihan pantai biasa.

Bagi Aceh yang memiliki kawasan pesisir dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada laut, persoalan tersebut dapat berdampak lebih luas, mulai dari ekosistem, perikanan hingga kawasan wisata.

Karena itu, pengurangan sampah plastik dari sumbernya menjadi salah satu langkah penting selain membersihkan sampah yang telah masuk ke kawasan pesisir. Pengelolaan sampah di daratan, kawasan wisata, permukiman, sungai dan muara juga menjadi bagian dari upaya mencegah sampah mencapai laut.

Sejumlah penelitian di Aceh menunjukkan bahwa masalah tersebut bukan sekadar kemungkinan. Plastik telah ditemukan dalam jumlah dominan di berbagai kawasan pesisir, sementara mikroplastik juga telah teridentifikasi di perairan.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai sampah plastik di Aceh bukan lagi sekadar berapa banyak sampah yang terlihat di pantai, tetapi berapa banyak yang sudah masuk ke laut dan berubah menjadi bagian dari ekosistem yang sulit dikembalikan seperti semula.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....