Gen Z dan Dunia Kerja: Kenapa Banyak Lulusan Sulit Masuk Pasar Kerja?

  • 27 Agt 2026 11:21 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Persaingan memasuki dunia kerja masih menjadi tantangan bagi generasi muda, termasuk lulusan pendidikan tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, meskipun tingkat pengangguran terbuka Indonesia mengalami penurunan, jutaan penduduk masih belum terserap ke dalam pasar kerja.

BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68 persen, turun 0,08 persen poin dibandingkan Februari 2025. Pada periode yang sama, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang.

Namun, persoalan penyerapan tenaga kerja tidak hanya terlihat dari angka pengangguran secara keseluruhan. Data BPS menunjukkan pada Agustus 2025 terdapat sekitar 7,46 juta pengangguran terbuka. Dari jumlah tersebut, sekitar 904 ribu orang merupakan lulusan universitas dan sekitar 146 ribu lainnya merupakan lulusan akademi atau diploma.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum secara otomatis menjamin seseorang terserap ke dalam dunia kerja. Persoalan ini salah satunya berkaitan dengan kesesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan perusahaan.

World Bank dalam kajiannya mengenai keterampilan tenaga kerja Indonesia menyoroti persoalan skills mismatch, yakni ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki tenaga kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Ketidaksesuaian tersebut menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kualitas penyerapan tenaga kerja muda.

Perubahan kebutuhan industri juga berlangsung semakin cepat seiring perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Perusahaan kini tidak hanya mempertimbangkan latar belakang pendidikan, tetapi juga kemampuan teknis, keterampilan digital, komunikasi, pemecahan masalah dan kemampuan beradaptasi.

Kondisi pasar kerja tersebut juga tercermin di Aceh. BPS mencatat TPT Aceh pada Februari 2026 mencapai 5,88 persen, lebih tinggi dibandingkan angka nasional yang berada pada 4,68 persen.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tantangan memasuki pasar kerja tidak hanya terjadi pada tingkat nasional, tetapi juga menjadi persoalan di tingkat daerah.

Bagi lulusan baru, kondisi ini membuat persaingan mendapatkan pekerjaan tidak lagi hanya bergantung pada ijazah. Pengalaman magang, kemampuan digital, sertifikasi, pengalaman organisasi dan portofolio pekerjaan dapat menjadi faktor yang membedakan seorang kandidat dengan kandidat lainnya.

Fenomena tersebut juga membuka ruang penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara pendidikan dan penyerapan tenaga kerja. Sejumlah variabel seperti kesesuaian jurusan dengan pekerjaan, pengalaman kerja, keterampilan digital dan lama waktu memperoleh pekerjaan pertama dapat digunakan untuk melihat faktor yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan lulusan memasuki pasar kerja.

Dengan demikian, tingginya jumlah lulusan yang belum bekerja tidak serta-merta dapat dipandang sebagai persoalan kurangnya lapangan pekerjaan maupun rendahnya kesiapan generasi muda. Ketidaksesuaian keterampilan, perubahan kebutuhan industri dan karakteristik pekerjaan yang tersedia juga menjadi bagian dari persoalan penyerapan tenaga kerja.

Di tengah perubahan tersebut, lulusan baru dituntut tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga terus menyesuaikan keterampilan dengan kebutuhan pasar kerja yang berkembang.

Sementara bagi pemerintah dan lembaga pendidikan, kondisi ini menjadi tantangan untuk memastikan kompetensi yang diberikan kepada mahasiswa tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....