Ekonomi Aceh Tumbuh 4,09 Persen, Anak Muda Dapat Apa?
- 17 Agt 2026 12:07 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Perekonomian Aceh tumbuh 4,09 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi Aceh kembali menguat setelah pada Triwulan IV 2025 mengalami kontraksi 1,61 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi masih menghadapi tantangan ketika dilihat dari kondisi pasar kerja dan daya beli masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh atas dasar harga berlaku pada Triwulan I 2026 mencapai Rp66,39 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 mencapai Rp39,95 triliun.
Sejumlah sektor mencatat pertumbuhan cukup tinggi. Pada Triwulan I 2026, jasa keuangan dan asuransi tumbuh 17,96 persen, konstruksi 15,95 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 13,54 persen. Sektor-sektor tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang ikut mendorong pertumbuhan Aceh.
Namun, pertumbuhan ekonomi belum otomatis berarti seluruh masyarakat mendapatkan manfaat yang sama, terutama kelompok usia produktif yang sedang memasuki pasar kerja.
Data BPS melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 mencatat jumlah angkatan kerja Aceh mencapai 2,66 juta orang, dengan sekitar 2,5 juta orang bekerja dan 156,23 ribu orang menganggur. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh tercatat 5,88 persen.
Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja justru tercatat turun 55,34 ribu orang dibandingkan Februari 2025, sementara jumlah pengangguran meningkat 7,43 ribu orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan kemampuan menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi pertambahan penduduk usia kerja.
Dari sisi struktur pekerjaan, 64,15 persen pekerja di Aceh berada di sektor informal, sedangkan pekerja formal mencapai 35,85 persen. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 41,39 persen, disusul perdagangan besar dan eceran sebesar 13,41 persen serta pendidikan 6,97 persen.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Aceh. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja yang lebih luas, pekerjaan formal, peningkatan pendapatan, serta peluang usaha yang mampu memberikan nilai tambah.
Tekanan daya beli juga masih menjadi perhatian. BPS mencatat inflasi Aceh pada Juni 2026 mencapai 5,84 persen secara tahunan. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama dengan inflasi tahunan sebesar 7,87 persen dan memberikan andil 2,59 persen terhadap inflasi.
Artinya, ketika aktivitas ekonomi meningkat, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga sejumlah kebutuhan. Bagi anak muda yang baru memasuki dunia kerja, kondisi tersebut dapat membuat pertumbuhan pendapatan tidak selalu terasa sebagai peningkatan daya beli apabila kenaikan harga berlangsung lebih cepat.
Di sisi lain, sektor ekonomi Aceh juga menunjukkan peluang. Data BPS mencatat sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 13,54 persen, sementara sektor konstruksi tumbuh 15,95 persen pada Triwulan I 2026. Pertumbuhan pada sektor-sektor tersebut berpotensi menciptakan ruang bagi tenaga kerja dan pelaku usaha muda apabila diikuti peningkatan investasi dan aktivitas bisnis.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai pertumbuhan ekonomi Aceh bukan hanya seberapa besar angka PDRB meningkat, tetapi juga seberapa jauh pertumbuhan tersebut menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan memperluas kesempatan ekonomi bagi generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....