Mantan Gubernur Aceh Zaini Abdullah Berpulang, Tinggalkan Jejak Perdamaian

  • 13 Jun 2026 13:24 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Kabar duka menyelimuti Tanah Rencong. Mantan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu, 13 Juni 2026, sekitar pukul 12.40 WIB dalam usia 86 tahun.

Informasi wafatnya tokoh yang akrab disapa Abu Doto itu dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan grup percakapan masyarakat Aceh. Ucapan belasungkawa serta doa mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, ulama, akademisi, hingga mantan kolega yang pernah bersama-sama membangun Aceh.

Dalam pesan duka yang beredar, keluarga memohon kepada seluruh masyarakat untuk mengirimkan doa terbaik dan membacakan Al-Fatihah bagi almarhum, seraya berharap Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Sesuai informasi yang dihimpun, jenazah almarhum akan dimandikan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh sebelum dibawa ke rumah duka di kawasan Geuceu, Kota Banda Aceh. Selanjutnya, jenazah akan dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman usai pelaksanaan salat Ashar sebelum diberangkatkan menuju kampung halamannya di Trubue, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, untuk dimakamkan.

Kepergian Zaini Abdullah menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Aceh. Sosoknya bukan hanya dikenal sebagai mantan kepala pemerintahan daerah, tetapi juga sebagai salah satu figur sentral dalam perjalanan panjang sejarah politik dan perdamaian Aceh.

Lahir di Beureunuen, Pidie, pada 24 April 1940, Zaini Abdullah mengawali kariernya sebagai seorang dokter sebelum terlibat dalam perjuangan Aceh. Ia merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan pernah bertugas sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Kuala Simpang serta menempuh pendidikan spesialis kebidanan dan kandungan.

Dalam perjalanan politik Aceh, Zaini Abdullah dikenal sebagai salah satu tokoh senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia pernah menjabat Menteri Kesehatan kabinet pertama GAM, kemudian dipercaya sebagai Menteri Luar Negeri GAM dan menjadi bagian penting dalam berbagai proses diplomasi internasional yang mengupayakan penyelesaian konflik Aceh. Ia juga terlibat dalam perundingan-perundingan damai yang mengarah pada lahirnya perdamaian Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki tahun 2005.

Puncak karier politiknya tercatat ketika ia terpilih sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017 bersama Wakil Gubernur Muzakir Manaf. Kepemimpinannya menjadi salah satu tonggak penting dalam fase konsolidasi perdamaian, pembangunan, serta penguatan kekhususan Aceh setelah konflik berkepanjangan.

Selama menjabat, Zaini Abdullah dikenal sebagai pemimpin yang mengedepankan stabilitas daerah, penguatan nilai-nilai keislaman, serta implementasi berbagai butir kesepakatan damai Helsinki. Kiprahnya menjadikan dirinya salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik Aceh modern.

Hari ini, Aceh kehilangan salah satu putra terbaiknya. Sosok yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia kesehatan, perjuangan, perdamaian, dan pemerintahan itu kini telah berpulang.

Selamat jalan, Abu Doto.

Semoga Allah SWT menerima segala amal bakti almarhum, mengampuni segala dosa dan khilafnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di surga terbaik. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi musibah ini.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....