Tiga Karakter Orang Bertaqwa yang Dicintai Allah
- 25 Mar 2026 14:25 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe — Tiga karakter utama orang bertaqwa menjadi kunci meraih surga seluas langit dan bumi. Hal tersebut disampaikan Ustadz Khairunnasri kepada RRI, terkait makna ketaqwaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Ustadz Khairunnasri, setiap kebaikan yang dilakukan manusia pada dasarnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 7 yang menegaskan bahwa siapa pun yang berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri.
Ia menjelaskan, dalam tafsir Surah Ali Imran ayat 133–134, umat Muslim diperintahkan untuk bersegera memohon ampunan Allah dan tidak menunda-nunda taubat. Balasan bagi mereka yang mendapatkan ampunan tersebut adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan khusus bagi orang-orang bertaqwa.
Ustadz Khairunnasri menuturkan, terdapat tiga karakter utama orang bertaqwa yang berhak memperoleh kedudukan mulia tersebut. Pertama, berinfak di waktu lapang maupun sempit. Orang bertaqwa tetap menyisihkan hartanya untuk berbagi, baik dalam kondisi berkecukupan maupun saat mengalami kesulitan.
“Ketakwaan itu terlihat dari konsistensi berbagi. Tidak menunggu kaya atau lapang, tetapi tetap memberi sesuai kemampuan,” ujarnya.
Karakter kedua adalah mampu menahan amarah. Ia mengatakan, orang bertaqwa tidak membiarkan emosi menguasai diri hingga menimbulkan dampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan mengendalikan emosi menjadi salah satu tanda kedewasaan spiritual seseorang.
Sementara karakter ketiga adalah memaafkan kesalahan orang lain. Sifat pemaaf, kata dia, merupakan bagian dari akhlak mulia yang sangat dicintai Allah. Orang yang mampu melapangkan dada atas kesalahan sesama termasuk golongan muhsinin atau orang-orang yang berbuat kebaikan.
Namun demikian, ia mengakui bahwa mempraktikkan ketiga karakter tersebut bukan hal mudah. Banyak tantangan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari dorongan emosi, kepentingan pribadi, hingga godaan materi.
“Hidup ini terasa rumit bukan karena Allah mempersulit, tetapi karena pola pikir dan nafsu manusia yang sering membuat keadaan menjadi lebih sulit,” jelasnya.
Sebagai penutup, Ustadz Khairunnasri juga mengingatkan pentingnya menjaga ibadah wajib sebagai fondasi ketaqwaan. Salah satunya dengan menegakkan salat subuh berjamaah di masjid, khususnya bagi laki-laki, yang dinilai menjadi indikator kesalehan dan kedisiplinan seorang Muslim.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....