Era Digital, Ketua MAA Lhokseumawe Ingatkan Pentingnya Ketahanan Budaya Lokal
- 29 Jun 2026 20:45 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe — Tantangan pelestarian budaya lokal di tengah gempuran era digital kian nyata. Menyikapi hal tersebut, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe, Saifuddin, menekankan pentingnya membangun "ketahanan budaya" pada setiap individu guna menangkal dampak negatif serta infiltrasi budaya asing yang kian mudah diakses masyarakat.
"Dalam era digital ini ada sisi positif dan negatifnya. Untuk membentengi diri dari nilai negatif, diperlukan ketahanan budaya dari masing-masing kita. Ketahanan untuk menguasai kekayaan budaya diri sendiri," ujar Saifuddin, Senin 29 Juni 2026.
Menurut Saifuddin, kearifan lokal Aceh sebenarnya memiliki daya saing yang tinggi dan tidak kalah menarik dari budaya luar jika dikelola secara kreatif. Pihaknya mencontohkan bagaimana instrumen musik tradisional seperti Serune Kalee, Rapai, dan Canang jika dikolaborasikan mampu menciptakan aliran musik yang unik, indah, dan bernilai estetika tinggi, sebagaimana yang dipopulerkan oleh seniman lokal.
"Persoalannya tergantung dari kita. Cuma hanya saja, mungkin peminat anak-anak muda sekarang untuk budaya yang bernilai kearifan lokal ini kurang. Tetapi ketika kita ajak dan kita bangkitkan kembali, mereka sebenarnya sangat antusias," jelasnya.
Guna mencegah budaya Aceh agar tidak tergerus oleh arus globalisasi digital, Ketua MAA Lhokseumawe ini menjabarkan tiga unsur penting yang harus bersinergi:
Peran Lembaga Pendidikan (Sekolah): Sekolah memegang posisi paling krusial melalui program ekstrakurikuler (e-school). Saifuddin mengapresiasi langkah konkret yang telah dilakukan oleh SMA Negeri 2 Lhokseumawe beberapa waktu lalu, di mana pihak sekolah berhasil menyelenggarakan kegiatan adat berkonsep kearifan lokal, mengajarkan tata cara adat, hingga penggunaan bahasa Aceh yang bersastra.
| Baca juga: Renungan di Bulan Muharram |
Peran Keluarga (Orang Tua): Orang tua diharapkan mampu menjadi "sutradara budaya" bagi anak-anak di rumah. Keperihatinan muncul karena saat ini banyak orang tua yang abai dan tidak lagi membiasakan penggunaan bahasa Aceh maupun nilai-nilai keacehan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak-anak mudah terbawa arus budaya global.
Peran Pemerintah dan Pemangku Kepentingan: Pemerintah daerah dan stakeholder terkait wajib melakukan kontrol dan pengawasan reguler agar implementasi pelestarian ini berjalan terarah.
Di akhir penyampaiannya, Saifuddin juga mengajak lembaga penyiaran, baik RRI maupun radio-radio swasta, untuk terus konsisten memberikan dukungan penuh sebagai media sosialisasi dan edukasi budaya kepada masyarakat luas.
"Jika ketiga pilar ini tidak berjalan dan tidak dikontrol, nilai-nilai budaya kita dikhawatirkan akan lepas begitu saja," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....