Kisah Pembebasan Makkah Tanpa Pertumpahan Darah

  • 09 Sep 2024 06:53 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Pada 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah (630 Masehi), peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai 'Fathu Makkah' terjadi. Dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sekitar 10 ribu pasukan Muslim bergerak dari Madinah menuju Makkah. Misi mereka jelas: membebaskan kota suci itu dari kekuasaan kafir Quraisy tanpa kekerasan.

Dalam wawancara bersama Ustaz Faried Saenong di program kajian subuh "Mutiara Pagi" yang disiarkan di radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, beliau menjelaskan makna dari peristiwa ini. Ustaz Faried menjelaskan bahwa peristiwa 'Fathu Makkah' bukanlah sekadar ekspansi wilayah, melainkan pembebasan umat dari tirani penguasa yang zalim, sebagaimana Rasulullah dan para sahabat berhasil mengambil alih kota Makkah tanpa menumpahkan darah setetes pun.

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menunjukkan kepada kita bahwa pembebasan sejati adalah tentang membebaskan orang-orang dari penindasan dan ketidakadilan. Beliau mendatangi Makkah dengan penuh kedamaian, hanya dengan negosiasi tanpa pertempuran,” kata Ustaz Faried. "Ini adalah contoh yang luar biasa dari bagaimana kekuasaan dapat diraih dengan penuh hikmah dan kedamaian."

Sejarah mencatat, setelah berhasil memasuki Makkah, Rasulullah memerintahkan agar Ka'bah disucikan dari berhala-berhala yang selama ini disembah oleh kaum Quraisy. Makkah yang sebelumnya dikuasai oleh penguasa zalim kini kembali ke tangan umat Islam, dan Rasulullah memastikan bahwa tidak ada kekerasan atau balas dendam terhadap penduduk kota.

Ustaz Faried juga mengaitkan pembebasan Makkah ini dengan penyebaran Islam di Nusantara. "Seperti halnya 'Fathu Makkah', Islam di Indonesia juga datang dengan damai, melalui perdagangan dan interaksi sosial yang penuh toleransi. Ini menunjukkan bahwa Islam selalu mengedepankan perdamaian dalam menyebarkan ajarannya," ujarnya.

Peristiwa 'Fathu Makkah' adalah bukti bahwa dalam Islam, pembebasan sebuah wilayah tidak harus diiringi dengan penjajahan atau penguasaan paksa. Sebaliknya, Rasulullah mencontohkan bahwa kekuatan moral dan diplomasi yang kuat mampu mengalahkan ketidakadilan tanpa kekerasan.

“Islam menolak penjajahan dan segala bentuk penindasan. Apa yang dilakukan Rasulullah di Makkah menjadi contoh nyata bahwa pembebasan sejati datang melalui kedamaian, bukan dengan senjata,” ujar Ustaz Faried menutup wawancara.





Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....