Bolehkah Menatap Langit saat Berdoa?

  • 28 Mar 2024 09:57 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Dalam bulan suci Ramadan, umat Muslim di seluruh dunia merayakan kedekatan dengan Allah melalui ibadah puasa. Namun, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan menjalankan ajaran-Nya. Salah satu konsep penting yang ditekankan dalam puasa adalah keterkaitan erat antara kesehatan fisik dan spiritual.



Dalam konteks ini, Surah Al-Baqarah ayat 186 menyoroti dua hal penting: kedekatan dengan Allah dan pengabulan doa. Ayat ini menegaskan bahwa Allah senantiasa dekat dengan hamba-Nya dan siap memperkenankan doa-doa mereka. Ustaz Faried Saenong, seorang ahli agama, menjelaskan bahwa ayat ini menggarisbawahi betapa Allah dekat dengan kita, dan bahwa Allah sendiri memberikan jawaban atas pertanyaan tentang kedekatan-Nya.


Ilustrasi (Foto: Siim Lukka/Unsplash)




Dalam beribadah, kata ustaz Faried Saenong, kita juga diminta untuk memperhatikan petunjuk yang diberikan oleh agama, termasuk dalam hal berpuasa. Ia menjelaskan bahwa ada perbedaan antara sakit yang insidental dan permanen. Orang yang sakit secara permanen, seperti yang harus minum obat secara teratur, dapat mengganti puasa dengan membayar fidyah. Namun, bagi yang hanya sakit secara insidental, tetap berpuasa adalah pilihan yang lebih baik namun bisa menggantinya dihari yang lain.



Pentingnya kesehatan fisik dalam menjalankan ibadah puasa tidak bisa diabaikan. Dalam kajian Islam 'Mutiara Pagi' di 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, ustaz Faried menegaskan bahwa jika sakit atau kondisi fisik menghalangi seseorang untuk berpuasa, maka mendengarkan nasihat dokter adalah langkah yang bijaksana. Hal ini sesuai dengan ajaran agama yang menekankan keberkahan dalam menjaga kesehatan.



Selain menjaga kesehatan fisik, puasa Ramadan juga merupakan momen untuk memperdalam hubungan spiritual dengan Allah. Ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan berbagai ibadah, seperti tarawih, bacaan Quran, dan dzikir, serta berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian, puasa tidak hanya membawa manfaat kesehatan fisik, tetapi juga memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta.


Ilustrasi (Foto: Unsplash)

Dalam berdoa, kita kadang menengadahkan tangan ke langit sebagai simbol kesungguhan dan kerendahan hati dalam meminta kepada Allah. Namun, ini bukan berarti Allah berada secara fisik di atas langit, melainkan bahwa kita mengakui kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu.



"Bolehkah berdoa sambil memandang ke langit?" Pertanyaan ini menggambarkan upaya manusia untuk merasakan kehadiran Allah dan mendekat kepada-Nya. Untuk menjawab pertanyaan ini, menurut ustaz Faried Saenong, kita perlu memahami konsep dekatnya Allah, terutama dalam konteks Ramadan dan tafsir surah Al-Baqarah ayat 186.



Dalam tafsir ayat tersebut, ustaz Faried Saenong menjelaskan bahwa pertanyaan awal dari orang-orang Arab kepada Rasulullah Muhammad saw. adalah apakah Allah dekat sehingga kita dapat berdoa dengan suara yang lembut ataukah jauh sehingga kita harus berdoa dengan suara keras. Ayat tersebut, yang menegaskan bahwa Allah dekat dan akan menjawab doa hamba-Nya, memberikan indikasi bahwa Allah memang benar-benar dekat dengan kita.



Menariknya, dalam Al-Quran, ketika orang bertanya tentang Allah, Allah sendiri yang langsung memberikan jawaban, tanpa meminta Nabi untuk menjawabnya. Ini menunjukkan bahwa Allah ingin menegaskan dekatnya-Nya dengan hamba-hamba-Nya.



Namun, penting untuk memahami bahwa ketika kita berbuat dosa, kita sebenarnya yang menjauhi Allah, bukan Allah yang menjauhi kita. Dalam Al-Quran, Allah mengingatkan kita bahwa dosa-dosa kita membuat kita menjauh dari-Nya. Namun, Allah selalu siap menerima tobat kita dan mendekati kita dengan cepat dan kreatif ketika kita berniat kembali kepada-Nya.




Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....