Fitoplankton Sebagai Penghasil Oksigen Terbesar

  • 16 Jan 2026 10:17 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan : Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis mirip tumbuhan yang hidup melayang di permukaan samudera dan perairan tawar. Meskipun ukurannya sangat kecil hingga tidak kasat mata tanpa bantuan mikroskop, peran mereka bagi kehidupan di Bumi sangatlah masif. Sering kali hutan hujan tropis seperti Amazon dijuluki sebagai "paru-paru dunia", namun kenyataannya lautanlah yang memegang gelar tersebut berkat keberadaan fitoplankton yang tersebar luas di seluruh penjuru samudera.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa fitoplankton bertanggung jawab atas produksi sekitar 50% hingga 85% oksigen di atmosfer Bumi. Angka ini jauh melampaui kontribusi seluruh pohon dan tumbuhan di daratan jika digabungkan. Hal ini dapat terjadi karena lautan menutupi lebih dari 70% permukaan planet ini, memberikan ruang yang sangat luas bagi miliaran triliun fitoplankton untuk terus berproduksi sepanjang hari selama terpapar sinar matahari.

Proses produksi oksigen oleh fitoplankton dilakukan melalui mekanisme fotosintesis. Sama seperti tumbuhan di darat, fitoplankton memiliki klorofil untuk menangkap energi matahari guna mengubah karbon dioksida dan air menjadi energi kimia berupa gula. Sebagai produk sampingan dari reaksi kimia ini, mereka melepaskan oksigen langsung ke air laut yang kemudian menguap ke atmosfer. Tanpa aktivitas mikroorganisme ini, kadar oksigen di Bumi akan merosot tajam dan mengancam keberlangsungan hidup makhluk bernapas lainnya.

Selain sebagai "pabrik" oksigen, fitoplankton juga berfungsi sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang sangat efektif. Melalui proses fotosintesis, mereka menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dari atmosfer, yang membantu mengerem laju pemanasan global. Ketika fitoplankton mati, sebagian besar karbon yang mereka simpan akan tenggelam ke dasar laut dalam, mengunci zat tersebut agar tidak kembali ke atmosfer sebagai gas rumah kaca dalam waktu yang lama.

Namun, keberlangsungan populasi fitoplankton saat ini menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim dan pencemaran laut. Peningkatan suhu air laut serta pengasaman samudera dapat mengganggu siklus reproduksi dan kemampuan fotosintesis mereka. Jika populasi fitoplankton menurun, dampaknya tidak hanya akan dirasakan oleh rantai makanan laut, tetapi juga akan memicu krisis oksigen global yang berdampak langsung pada setiap tarikan napas manusia.(p3bms.uma.ac.id)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....