Ngobras bersama Kopermekha Bicara tentang Lokalitas dalam Fiksi

  • 03 Des 2025 22:16 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Program Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) edisi Rabu (3/12/2025) malam, kembali mengudara melalui Pro 1 RRI Pontianak. Pada kesempatan kali ini, Komunitas Perempuan Menulis Khatulistiwa (Kopermekha) hadir sebagai narasumber untuk berbincang mengenai pentingnya Lokalitas dalam Fiksi.

Dua anggota komunitas, Umihayete dan Anna Mardhiya, membagikan pengalaman mereka dalam berkarya sekaligus peran lokalitas dalam tulisan-tulisan mereka.

Umihayete, penulis buku Cerite di Warung Kopi, mengungkapkan bahwa ia bergabung dengan Kopermekha sejak 2020. Kecintaannya pada dunia menulis telah tumbuh sejak masa sekolah dasar, dan keberadaan komunitas menjadi ruang belajar sekaligus dukungan kreatif bagi dirinya.

Buku Cerite di Warung Kopi sendiri merupakan karya solo ketiganya. Ia mengangkat suasana dan dinamika warung kopi sebagai tema besar, menggambarkan tempat yang kerap menjadi wadah berbagai cerita, mulai dari rumah tangga, persahabatan, hingga cinta.

Dalam karyanya, Umihayete juga memasukkan banyak unsur lokal, seperti setting Pulau Lemukutan, Sungai Kapuas, kuliner khas Pontianak, hingga penggunaan bahasa daerah Pontianak. Menurutnya, hal itu menjadi cara untuk menghadirkan dan menjaga kekhasan Pontianak dalam karya sastra.

Sementara itu, Anna Mardhiya, yang telah bergabung di Kopermekha sejak 2019, memperkenalkan bukunya yang berjudul Tsanja singkatan dari Tang Sinek Adek Nunggu Janji Abang. Buku tersebut berisi sembilan cerita pendek bertema cinta, di mana 60 persen di antaranya mengangkat kisah perempuan.

“Temanya tidak jauh dari cinta. Banyak hal yang bisa dikulik dari kisah cinta,” tutur Anna.

Ia menambahkan bahwa unsur lokalitas dalam karyanya terasa melalui tempat, dialog, kuliner, dan berbagai unsur khas Pontianak yang sengaja disisipkan dalam cerita.

Baik Umihayete maupun Anna sepakat bahwa memasukkan unsur kedaerahan dalam karya fiksi adalah langkah penting untuk melestarikan identitas budaya, terutama melalui bahasa dan penggambaran lokal khas daerah.

Mereka juga menekankan pentingnya kehadiran komunitas bagi para penulis. Selain menjadi ruang belajar mengenai teknik menulis, komunitas juga membantu menjaga semangat berkarya dan menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman.

“Kopermekha terus mengajak para penulis di luar sana, bukan hanya yang sudah mahir, tetapi juga mereka yang masih ingin terus belajar,” ujar keduanya.

Baca juga: Bahasa Gaul dan Baku di Mata Gen Z

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....