Bahasa Gaul dan Baku di Mata Gen Z
- 02 Des 2025 18:49 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: RRI Pro 2 Pontianak menghadirkan Jaspenita Baro dan Desimiyanti Handayani dalam program Pontianak Today untuk membahas dinamika penggunaan bahasa gaul dan bahasa baku di kalangan anak muda. Keduanya diundang khusus sebagai Guest Host di Pro 2 RRI Pontianak pada Senin (1/12/2025), pukul 15.00-16.00 WIB.
Dalam siaran tersebut, Jaja, sapaan akrab Jaspenita Baro, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester 7 Universitas Tanjungpura, menjelaskan bahwa bahasa gaul bukanlah ancaman bagi bahasa Indonesia. Menurutnya, dinamika bahasa gaul justru menandakan bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup dan terus berkembang mengikuti zaman.
“Bahasa gaul itu sebenarnya tidak salah, karena bahasa itu kan berkembang sesuai kebutuhan dan lingkungan,” ucap Jaja.
Ia menilai, penggunaan bahasa gaul yang lahir dari kreativitas generasi muda adalah bagian dari proses adaptasi sosial di era digital. Namun, Jaja menekankan bahwa bahasa gaul tetap memiliki konteks pemakaian tertentu, terutama di lingkungan nonformal seperti pertemanan dan media sosial.
Pada kesempatan itu, Jaja mengingatkan bahwa penggunaan bahasa harus ditempatkan sesuai porsinya. Menurutnya, berbahasa gaul kepada atasan atau dalam situasi profesional tidak hanya tidak tepat, tapi juga dapat menurunkan nilai profesionalitas seseorang di lingkungan kerja.
Memasuki segmen kedua, Jaja menghadirkan tandemnya, Desimiyanti Handayani, yang juga merupakan Duta Bahasa Kalimantan Barat 2025. Desi mengakui bahwa beralih dari bahasa gaul ke bahasa baku memang terasa canggung.
“Kalau dari saya pribadi, itu pasti iya sih, Kak. Karena dalam sehari-hari tuh kita pasti menggunakan bahasa gaul,” ujarnya.
Desi menambahkan bahwa untuk mengurangi rasa canggung itu, seseorang perlu membiasakan diri. “Mungkin kayak mulai terbiasa belajar sendiri untuk menggunakan bahasa baku. Entah itu latihan membaca atau mendengar kalimat-kalimat dengan bahasa baku,” tuturnya dalam siaran tersebut.
Jaja sepakat bahwa latihan adalah kunci. Ia menilai rasa canggung justru merupakan tanda bahwa seseorang sedang berproses. Ia menegaskan, pembiasaan diri dapat dimulai melalui kegiatan seperti organisasi, public speaking, debat, hingga menjadi MC yang mengharuskan penggunaan bahasa baku.
“Sangat jarang sekali Gen Z sekarang menggunakan bahasa baku, mereka tuh lebih condong ke bahasa gaul,” kata Desi.
Meski demikian, Jaja menilai generasi muda bukan berarti tidak peduli. Menurutnya, mereka justru adaptif dan mampu menempatkan diri. Ia menekankan bahwa profesionalitas tetap menuntut penggunaan bahasa baku, terutama dalam lingkungan pekerjaan, akademik, dan kegiatan formal.
Menutup siaran, Jaja dan Desi mengajak generasi muda untuk memandang bahasa baku sebagai sesuatu yang keren, bernilai, dan mampu memberi karakter pada konten yang mereka buat. Mereka menilai penggunaan bahasa baku dapat memberikan kesan unik dan anti-mainstream, serta berharap lebih banyak anak muda terdorong untuk mencintai bahasa Indonesia tanpa harus meninggalkan gaya komunikasi khas generasi mereka.
Baca juga: Duta Bahasa Ajak Gen Z Melek Literasi
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....