Hutang adalah Kewajiban: Anda Harus Berani Bayar Hutang

  • 18 Nov 2025 14:43 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas : Berani berhutang, jangan lupa membayar. Slogan ini mungkin terdengar sederhana, namun menjadi sorotan tajam di tengah maraknya kasus gagal bayar yang menjerat Masyarakat.

Dalam sebuah dialog pagi dengan program Religi Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, dengan tajuk “Wani Utang, aja Klalen Bayar,” yang menghadirkan Ustaz K.H. Mintaga Eman Surya, Lc.,MA yang menekankan pentingnya melunasi utang piutang berdasarkan ajaran islam.

Ustaz Mintaga mengingatkkan bahwa hutang adalah tanggung jawab yang sangat berat, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Beliau mengutip hadis dari Abu Hurairah bahwa “ jiwa seorang mukmin terkatung – katung (tergantung) pada hutangnya sampai dilunasi,” ini berarti, hutang dapat menghalangi seseorang untuk segera mendapatkan kedudukan mulia di kahirat, atau tertahan dari masuk surga Bersama rombongan orang saleh. Jelasnya

“Urusan hutang piutang termasuk dalam hak – hak antar manusia, yang penyelesaianya di akhirat bergantung pada kerelaan orang yang diutangi. Jika hutang tidak diselesaikan di dunia, orang yang berutang akan membayar dengan amal salehnya di akhirat, atau mengambil dosa dari orang yang diutangi jika amalnya telah habis,” kata Ustaz Mintaraga.

Beliau mengutip pandangan ulama yang menyatakan bahwa membawa dosa satu kesalahan terhadap sesama manusia jauh lebih berat daripada membawa 70 dosa yang berkaitan dengan Allah, sebab Allah maha pengampun, namun manusia belum tentu memaafkan. Ia mengatakan, hutang boleh, tapi hindari 3 hal berbahaya meskipun hukum asalnya berutang diperbolehkan dan memberi pinjaman adalah amal kebajikan, ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW sendiri sering berdoa memohon perlindungan dari hutang.

Bentuk hutang yang dilarang yang pertama utang untuk maksiat, hutang yang dibelanjakan untuk hal – hal terlarang, seperti judi online atau Pinjol. Yang kedua utang tanpa niat untuk mengembalikannya, tidak memiliki kemampuan atau cara untuk melunasinya yang sama saja dengan menghancurkannharta orang lain. Dan yang ketiga hutang dengan niat tidak membayar, sejak awal berniat untuk tidak melunasinya yang merupakan maksiat besar kepada Allah.

Ustaz menghimbau agar berhutang dilakukan dengan cara yang menjaga harga diri. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah berhutang namun selalu memberikan jaminan, seperti menggadaikan baju perangnya untuk sekantong gandum. Berhutang tanpa jaminan dianggap merendahkan diri.

Sesuai dengan Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 282, setiap transaksi hutang piutang untuk waktu yang ditentukan wajib dituliskan. (Maryam)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....