Puasa Idul Adha, Kapan Dilaksanakan dan Apa Keutamaannya?

  • 02 Jun 2025 11:29 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta: Umat Islam di seluruh dunia dianjurkan untuk memperbanyak ibadah menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 H. Salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Dzulhijjah, Tarwiyah, dan Arafah yang memiliki keutamaan besar bagi yang melaksanakannya.

Dalam wawancara program kajian subuh Mutiara Pagi di Pro1 RRI Jakarta Ustaz Moch. Taufiqurrahman menjelaskan bahwa puasa Arafah dapat menjadi momen spiritual untuk memperkuat ketaatan dan muhasabah diri. “Puasa Arafah bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga momen refleksi, peningkatan iman, dan ketaatan kepada Allah,” ujarnya.

Sesuai keterangan NU Online, berdasarkan hasil sidang isbat Kemenag RI, 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Dengan demikian, puasa Dzulhijjah dimulai sejak Rabu 28 Mei 2025 dan berlanjut hingga puasa Tarwiyah pada 4 Juni 2025 dan puasa Arafah pada Kamis, 5 Juni 2025. Sementara itu, Idul Adha 1446 H jatuh pada Jumat, 6 Juni 2025.

Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak sedang berhaji. Hal ini merujuk pada hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa, “Puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun; setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim).

Selain Arafah, puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah juga disarankan. “Puasa Tarwiyah diyakini dapat menghapus dosa setahun penuh,” kata Ustaz Taufiqurrahman. Ia menambahkan, kedua puasa ini memiliki dimensi historis yang erat dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hari Tarwiyah diyakini sebagai hari ketika Nabi Ibrahim merenungi mimpinya tentang perintah penyembelihan.

Bagi umat Islam yang ingin menunaikan puasa Arafah, berikut lafal niat puasa Arafah pada malam hari:

>نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah Swt.”

Jika lupa berniat di malam hari, maka masih boleh niat di siang hari sebelum tergelincir matahari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَ

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Arafah lillâhi ta‘âlâ

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah Swt.”

Dalam penutupan kajian, Ustaz Taufiqurrahman menegaskan bahwa puasa sebelum Idul Adha adalah bentuk latihan diri, kesabaran, serta bukti cinta kepada Allah. “Jika dijalani dengan niat yang ikhlas dan kualitas yang baik, puasa Arafah menjadi jalan menuju pengampunan,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....