Narcissistic Personality Disorder dalam Perspektif Islam

  • 07 Mei 2025 13:38 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas : Zaman semakin berkembang dan teknologi pun semakin maju. Hal ini mendorong seseorang untuk dapat memanfaatkan media sosial dalam kegiatan sehari-hari. Di samping itu, media sosial juga memudahkan individu membagikan dan melihat pencapaian orang lain.

Penting untuk dapat memastikan niat dalam berbagi didasari oleh energi positif, bukan negatif. Energi negatif yang dimaksud ialah kesan angkuh atau merasa lebih baik dari orang lain.

Terdapat salah satu istilah yang cukup populer akhir-akhir ini untuk dapat mendeskripsikan perilaku orang yang narsis dan sesumbar dengan apa yang ia miliki. Istilah tersebut ramai di sosial media dengan nama Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau jika dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Gangguan Kepribadian Narsistik.

Dalam Dialog Religi Pagi Pro 1 RRI Purwokerto (07/05/2025) bersama ustadzah Hj. Sri Ningsih, S.Pd.M.Si, untuk dapat memberikan pandangannya tentang kondisi NPD dalam perspektif Islam.

”NPD itu jadi kondisi di mana seseorang memiliki rasa angkuh atau sombong, membutuhkan pujian dan validasi dari orang lain, serta meremehkan orang lain karena merasa tidak sehebat dirinya”, ucap ustadzah Sri Ningsih. Ia juga menambahkan jika seseorang sudah memiliki rasa angkuh di hatinya, maka akan mengundang niat buruk lain seperti menganggap enteng dosa dan tidak lagi takut pada Allah SWT.

Hal tersebut tentunya akan mengundang murka-Nya jika kita tidak segera bertaubat. Lebih lanjut, sikap angkuh erat kaitannya dengan fenomena Riya’. Riya adalah perbuatan memperlihatkan atau memamerkan amal baik yang dilakukan dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh orang lain, bukan semata-mata karena Allah SWT. Perbuatan tersebut tentunya sudah termasuk syirik kecil dan dapat mengugurkan pahala ibadah.

Menanggapi problematika ini, ustadzah Sri Ningsih mengatakan bahwa Islam sudah memiliki anjuran kepada umatnya untuk dapat menerapkan sikap Tawadhu. Tawadhu adalah individu yang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT. Pemahaman ini akan menghindarkan dirinya dari sifat sombong dan merasa lebih baik dari orang lain.

Dengan bersikap Tawadhu pun, akan mengajarkan kita untuk tidak mudah meremehkan atau mengkritik orang lain. Membuat kita mencpba untuk memahami bahwa setiap hal yang dimiliki orang lain pasti ada alasan atau penyebabnya, sehingga menghindarkan kita dari sikap judgemental. (Nur)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....