Tri Hita Karana, 3 Penyebab keharmonisan dalam Hidup Manusia

  • 15 Des 2024 06:48 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Manusia adalah Makhluk sosial. Jadi tidak mengherankan manusia memerlukan bantuan sesamanya dalam menjalani kehidupannya. Di dalam Agama Hindu disebut dengan Pawongan. Tidak hanya pawongan atau hubungan manusia dengan manusia saja yang dilaksanakan namun ada juga palemahan atau hubungan manusia dengan lingkungan dan parahyangan atau hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta. Ketiganya ini disebut Tri Hita Karana. Jika ketiga hubungan ini telah dilaksanakan dengan baik maka akan terjadi keharmonisan dalam kehidupan manusia.

Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Bawa Adnyana dalam Siaran Surya Puja, Jumat (13/12) 2024 di Pro 4 RRI Denpasar menyampaikan kontak sosial berpengaruh terhadap tata laku dan cara menjalani hidup. Masyarakat Indonesia Khsusnya tidak dapat lepas dari pengaruh globalisasi. Dalam weda disebutkan untuk lahir sebagai manusia sangatlah sulit, bagaikan kehidupan kilat yang cepat sekali. Ini termuat dalam kitab Saracamuscaya. Manusia diciptakan dengan dibekali segala kebutuhan hidup dan menjalankan kehidupan dengan bersumber pada Hyang Widhi dan sesama manusia atau keadaan ini disebut Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan 3 penyebab keharmonisan di dalam hidup manusia itu sendiri.

Ida Bagus Bawa menuturkan pada hakikatnya manusia adalah makhlik sosial yang tidak akan bisa hidup wajar tanpa hidup bersama dengan manusia lainnya, namun jika manusia mampu bersatu dan mensinergikan potensinya maka manusia akan mampu membangun hal-hal berskala besar. Dengan jalan dharma maka kebersamaan akan mampu dibangun secara harmonis dan dinamis. Dalam dharma telah ditentukan jalur-jalur yang harus ditempuh dalam mewujudkan tujuan hidup yang sejahtera dan bahagia.

Untuk menuju kehidupan yang harmonis maka konsep Tri Hita Karana tidak dapat dipisahkan. Ketiga konsep Tri Hita Karana ini diwujudkan dengan adanya parahyangan. Berupa tempat suci atau tempat ibadah sebagai sarana untuk melakukan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Pawongan sebagai sarana untuk melakukan hubungan antara manusia dengan manusia dan palemahan sebagai sarana untuk melakukan hubungan antara manusia dengan alam dan makhluk hidup lainnya di sekitar manusia itu sendiri. Jika ketiga konsep ini jika dilakukan maka akan menghasilkan suatu perilaku yang berdimensi religius yaitu suatu perilaku menyeimbangkan diri dengan alam semesta dilandasi dengan kesadaran bahwa alam semesta adalah kompleksitas unsur-unsur yang satu sama lain saling terkait, tutupnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....