Mengenal Radio Malabar dengan Pemancar Terbesar di Dunia
- 30 Okt 2024 20:37 WIB
- Nunukan
KBRN: Nunukan: Radio Malabar berdiri tanggal 5 Mei 1923 merupakan radio dengan pemancar berteknologi Arc Transmitter berkekuatan 2400kW dan menjadikannya radio dengan pemancar terbesar di dunia yang dibuat oleh Klaas Dijkstra yang bekerja untuk Dr. Ir. De Groot. Input power pemancar Radio Malabar adalah 3.6 MegaWatt bekerja pada frekuensi 49.2kHz, panjang gelombang 6100m dengan menggunakan Callsign PMM. Daya untuk pemancar Radio Malabar dibangkit oleh sebuah pembangkit tenaga air buatan Amerika yang terletak di Pengalengan dengan tegangan 25kV.
Radio Malabar merupakan cikal bakal amatir radio di Indonesia untuk komunikasi jarak jauh. Frekuensi yang digunakan masih sangat rendah dengan gelombang sangat panjang, tidak mengherankan jika antena yang digunakan harus dibentang memenuhi gunung Malabar di Bandung Selatan. Sisa-sisa Radio Malabar masih terdapat di sana berupa tiang-tiang antena-antena besar dan tinggi di tengah hutan.
Pada saat berdirinya International Amateur Radio Union (IARU) tahun 1925, wilayah nusantara pada saat itu masih dikuasai oleh Belanda, dan pada saat itu tengah berkecamuk Perang Dunia Pertama. Pada saat itu komunikasi antara Netherland dengan Hindia Belanda (julukan untuk wilayah Indonesia) hanya mengandalkan saluran kabel laut yang melintasi Teluk Aden yang dikuasai oleh Inggris.
Timbul kekhawatiran Belanda atas saluran komunikasi tersebut, mengingat Inggris terlibat dalam perang dunia pertama tersebut sedangkan Belanda ingin bersikap netral, oleh karenanya dilakukanlah berbagai percobaan dengan menempatkan beberapa stasiun relay yang antara lain di Malabar, Sumatera, Srilanka dan beberapa tempat lagi.
Pada tahun 1925 Prof. Dr. Ir. Komans di Netherland berhasil melakukan komunikasi dengan Dr. Ir. De Groot yang menggunakan Radio Malabar di Pulau Jawa. Kejadian ini merupakan titik tolak masuknya Komunikasi Radio di Indonesia, dan Pemerintah Hindia Belanda mendirikan B.R.V. (Batavian Radio Vereneging) dan NIROM).
Para teknisi yang bekerja pada kedua instansi ini umumnya adalah orang Belanda dan ada beberapa Bumi Putra, terus menekuni sistem komunikasi radio dengan melakukan koordinasi dan eksperiment bersama para Amatir Radio di Dunia. Mereka membentuk sebuah perkumpulan yang dikenal dengan nama Netheland Indice Vereneging Radio Amateur (NIVIRA).
Seorang anggota NIVIRA Bumi Putra dengan Callsign PK2MN, memanfaatkan kemampuannya dalam teknik elektronika Radio untuk membakar semangat kebangsaan, dengan mendirikan stasiun radio siaran yang diberi nama Solose Radio Vereneging (SRV) yang ternyata mendapat simpati rakyat.
Keberhasilan ini ditiru oleh beberapa Anggota NIVIRA Bumi Putra dengan mendirikan stasiun radio siaran serupa, antara lain MARVO – CIRVO – VORO – VORL dll, dan pada tahun 1937 mereka bergabung dengan membentuk Persatoean Perikatan Radio Ketimoeran (PPRK). Perhimpunan ini tidak dilarang oleh kolonial Belanda, karena dengan banyaknya masyarakat memiliki pesawat penerima radio, maka mereka akan dapat memungut pajak radio sebanyak-banyaknya.
Era pendudukan Jepang di Nusantara telah memusnahkan seluruh perangkat komunikasi radio dan radio siaran yang ada, NIROM dikuasai dan diganti namanya dengan Hoso Kanry Kyoku, kegiatan Amatir Radio dilarang. Namun Amatir Radio Bumi Putra tetap berjuang dengan melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi guna menunjang perjuangan kemerdekaan dengan membentuk Radio Pejuang Bawah Tanah, dan tak sedikit amatir radio yang dipenggal karena dituduh sebagai mata-mata sekutu. (Sumber:kpi.go.id).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....