Makna Kain Poleng dalam Kehidupan Umat Hindu
- 27 Sep 2024 06:04 WIB
- Denpasar
KBRN, Denpasar : Kain poleng bagi masyarakat Hindu di Bali diyakini memiliki kekuatan magis untuk melindungi dari pengaruh negatif. Oleh karena itu kain ini sering dipakai atau ditempatkan di lokasi – lokasi yang dianggap sakral atau penting secara spiritual. Lantas dimana biasanya umat Hindu menggunakan kain poleng tersebut?.
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Ida Bagus Gede Bawa Adnyana, dalam program acara Surya Puja di Programa 4 RRI Denpasar, Kamis, 26 September 2024 menjelaskan, pemakaian kain poleng di Bali digunakan sebagai busana Pelinggih (tempat pemujaan umat Hindu) yaitu Ratu Ngurah, Penunggun Karang, Kulkul ( kentongan), tedung ( payung di Pura ), dan juga pohon – pohon besar. Selain itu juga digunakan sebagai pakaian Pecalang ( petugas keamanan desa adat ), serta pentas seni pertunjukan seperti tari kecak dan pewayangan.
Bawa Adnyana menambahkan kain poleng juga digunakan pada arca ( patung) yang ada di tempat – tempat tertentu, yang merupakan simbol pertemuan antara Akasa ( ruang kosong atau ether) dan Pertiwi ( Bumi). Dalam menghias merajan atau sanggah ( tempat suci di rumah) umat Hindu di Bali juga ada yang menggunakan kain poleng pada tempat tempat tertentu seperti Ratu Nyoman, Penunggun Karang, Ulun Pangkung dan lain sebagainya. Hal ini melambangkan penghormatan terhadap kekuatan alam dan roh leluhur.
Diungkapkan Bawa Adnyana kain poleng juga digunakan sebagai penanda bahwa tempat atau benda yang dililit kain poleng memiliki kekuatan magis. Misalnya pohon yang dililit kain Poleng, batu besar, sehingga ketika umat Hindu melewati tempat atau benda tersebut disarankan untuk lebih berhati – hati.
Diungkapkan Bawa Adnyana kain poleng ketika dipasang atau dililitkan pada tumbuh – tumbuhan atau pohon – pohon besar yang dikeramatkan, seperti pohon Beringin, Pole, dan sebagainya, juga sebagai pengingat bahwa betapa pentingnya tumbuh – tumbuhan terhadap kehidupan manusia, sehingga alam perlu dilindungi dan dilestarikan. Manusia saling membutuhkan dengan tumbuh – tumbuhan, tumbuh – tumbuhan membutuhkan karbon dioksida, sedangkan manusia membutuhkan oksigen yang dikeluarkan oleh tumbuh – tumbuhan.
“Dalam implementasinya upacara atau ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali juga menekankan hubungan yang harmonis dengan alam/lingkungan sekitar untuk menjaga keseimbangan bumi ini. Tanpa hasil alam manusia tidak akan bisa hidup sehingga penting untuk menjaga kelestarian alam/lingkungan sekitar “ pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....