Fenomena Warteg Kekinian, Inovasi Konsep dan Perubahan Gaya Konsumsi

  • 18 Apr 2026 12:04 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Warteg “fansi” atau warteg kekinian hadir sebagai inovasi konsep dengan tampilan lebih modern, nyaman, dan harga yang lebih tinggi, namun tetap mempertahankan sistem prasmanan dan menu masakan rumahan.
  • Ketua Koperasi Warteg Nusantara menegaskan bahwa penggunaan brand “warteg fansi” tidak menjadi persoalan selama tidak menghilangkan identitas utama warteg sebagai penyaji makanan rumahan, dengan menu khas seperti tempe orek dan telur asin.
  • Sosiolog UI menilai tren warteg kekinian merupakan bentuk adaptasi masyarakat kelas menengah di tengah tekanan ekonomi, yang mencari tempat makan terjangkau namun tetap nyaman untuk rekreasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena warung tegal (warteg) 'fansi' atau warteg dengan konsep lebih premium tengah menjadi perbincangan masyarakat Indonesia. Konsep ini merujuk pada warteg yang dikemas lebih modern dengan suasana lebih nyaman serta harga yang cenderung lebih tinggi.

Ketua Koperasi Warteg Nusantara, Mukroni, menjelaskan bahwa pada dasarnya warteg merupakan konsep rumah makan sederhana. Konsep ini menerapkan sistem prasmanan yang mengutamakan kenyamanan pelanggan.

"Kalau kita tahu sebenarnya warteg itu konsepnya restoran yang nyaman. Kalau kemudian dikembangkan menjadi restoran premium dengan sistem prasmanan ala warteg, itu bagian dari inovasi," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Sabtu, 18 April 2026.

Terkait penggunaan istilah dan brand 'warteg fansi', ia menilai hal tersebut tidak menjadi persoalan. Asalkan, kata dia, tidak menghilangkan ciri utama warteg sebagai penyaji masakan rumahan.

Ia menyampaikan bahwa warteg memiliki sejarah panjang di Indonesia, terutama di Jakarta, dengan jumlah puluhan ribu usaha. Namun, ia menyebut terdapat berbagai versi cerita mengenai asal-usul warteg yang berkembang di masyarakat.

"Warteg itu ada yang mengatakan berasal dari orang-orang Tegal yang merantau ke Jakarta. Ada juga cerita lain yang berkembang, tapi yang pasti, warteg sudah sangat masif di Jakarta," ujarnya.

Ia menambahkan, penggunaan nama warteg sebagai merek usaha bersifat terbuka karena telah menjadi milik publik. Karena itu, banyak pelaku usaha yang mengembangkan berbagai variasi nama warteg sesuai kreativitas masing-masing.

Meski mengalami berbagai inovasi, ia menegaskan bahwa ciri khas warteg tetap tidak berubah, yakni dengan menyajikan masakan rumahan. Beberapa menu yang dianggap khas antara lain tempe orek dan telur asin yang kerap menjadi favorit pelanggan.

Sementata itu, Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaidah memiliki pandangan berbeda tentang warteg fansi dikalangan masyarakat. Ia mengatakan fenomena warteg fansi muncul sebagai respons kondisi ekonomi makro yang menunjukkan fakta penurunan kelas menengah.

Menurut data BPS selama periode 2019-2024, ada 9,48 juta kelas menengah yang 'turun kasta' ke kelompok menengah rentan. Dan juga kelompok rentan miskin.

"Warteg kekinian menjadi salah satu wujud adaptasi mereka [kelas menengah]. Mereka mencari tempat yang tetap bisa untuk rekreatif, tetapi harganya terjangkau karena sesuai dengan kondisi finansial," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....