Hidangan Imlek, Ketahui Perbedaan Kue Keranjang dan Bulan

  • 11 Feb 2026 11:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan berbagai hidangan khas yang sarat makna. Dua di antaranya yang paling dikenal adalah kue keranjang dan kue bulan yang memiliki cita rasa manis.

Meski sama-sama sering hadir saat Imlek, kedua kue ini ternyata memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut dari segi waktu penyajian, rasa, hingga filosofi, berikut penjelasannya.

Kue keranjang atau nian gao adalah sajian wajib saat Tahun Baru Imlek. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula, menghasilkan tekstur lengket dan kenyal.

Pada mulanya, kue keranjang digunakan sebagai persembahan dalam berbagai ritual keagamaan. Seiring waktu, sajian ini kemudian identik dengan Festival Musim Semi dan dipercaya membawa keberuntungan saat Tahun Baru Imlek.

Rasa manis pada kue keranjang melambangkan harapan kehidupan yang semakin manis. Teksturnya yang lengket dipercaya sebagai simbol eratnya hubungan keluarga.

Makna keberuntungannya tidak hanya berkaitan dengan rezeki yang meningkat. Tetapi juga menyangkut karier, keturunan, serta harapan menjalani tahun yang lebih baik.

Bentuk dan tekstur kue keranjang padat, kenyal, serta lengket membuatnya kerap dijuluki sebagai dodol China. Anggapan ini muncul karena kemiripan tampilan, meski bahan dan teknik pembuatannya berbeda.

Kue keranjang biasanya disusun bertingkat di meja persembahan. Setelah Imlek, kue ini sering diolah kembali dengan cara digoreng atau dikukus.

Sementara itu, kue bulan atau mooncake sebenarnya lebih identik dengan Festival Pertengahan Musim Gugur. Namun, kue ini juga kerap dijadikan hadiah saat Imlek.

Bentuknya bulat melambangkan keutuhan dan kebersamaan keluarga. Isian kue bulan sangat beragam, mulai dari pasta kacang merah, biji teratai, hingga kuning telur asin.

Tekstur kue bulan cenderung padat dengan rasa manis yang seimbang. Di bagian atasnya biasanya terdapat ukiran aksara Tionghoa atau motif khasnya yang melambangkan doa.

Kue bulan tercatat memiliki sejarah panjang hingga tiga ribu tahun di Tiongkok. Kue ini awalnya digunakan sebagai persembahan dalam Festival Pertengahan Musim Gugur.

Tradisi menyantap kue bulan diyakini bermula pada masa Dinasti Tang dan terus berlanjut hingga Dinasti Song Utara. Popularitasnya meningkat pesat pada akhir Dinasti Yuan, kemudian menyebar luas ke masyarakat umum hingga menjadi bagian dari menu sehari-hari masyarakat Tionghoa.

Dari segi tekstur, kue keranjang kenyal dan lengket, sementara kue bulan padat dan berisi. Makna filosofinya pun berbeda, meski sama-sama membawa doa dan harapan baik.

Keduanya tetap memiliki tempat istimewa dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Kehadirannya menjadi simbol kebersamaan, doa, dan rasa syukur di setiap perayaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....