Tradisi Padang Sarai Hantaran Nasi Lamak Singgang Ayam

  • 05 Agt 2025 16:27 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN Buiktinggi : Di tengah modernisasi yang terus berkembang, adat dan tradisi masyarakat Minangkabau tetap teguh dipertahankan, salah satunya adalah tradisi hantaran nasi lamak singgang ayam dalam acara tunangan yang digelar di kawasan Padang Sarai, Kota Padang, Sumatera Barat.

Tradisi ini menjadi bagian penting dalam prosesi pertunangan, di mana pihak keluarga calon pengantin wanita datang secara berombongan ke rumah calon pengantin pria untuk melamar sekaligus membicarakan hari pelaksanaan pernikahan. Dalam budaya Minangkabau, khususnya di Padang Sarai, pihak perempuan lah yang memulai proses lamaran, sesuai dengan sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minang.

Salah satu hal yang paling menonjol dalam acara ini adalah kehadiran nasi lamak singgang ayam sebagai bagian utama hantaran. Nasi lamak yang gurih dan wangi, dipadukan dengan singgang ayam—olahan ayam dengan bumbu khas Minang yang dimasak sederhana namun kaya cita rasa—melambangkan niat baik dan ketulusan hati dari pihak wanita kepada keluarga pihak pria.

Selain nasi lamak dan singgang ayam, beragam hantaran lainnya juga disiapkan dengan penuh makna. Di antaranya ada agar-agar, pisang, nasi kunyit, nasi lamak luo (nasi lamak dengan kelapa sangrai manis), serta ikan goreng berhias mie hun goreng putih. Seluruh sajian ini disusun rapi dan cantik dalam nampan-nampan tradisional, menjadi simbol kehormatan dan rasa hormat kepada keluarga calon mempelai pria.

Acara ini bukan sekadar formalitas, tetapi juga menjadi momen penting bagi kedua keluarga untuk berdiskusi dan menyepakati sejumlah hal terkait pernikahan, seperti penentuan tanggal akad nikah, tata cara upacara, hingga bentuk pesta pernikahan yang akan digelar.

Pertemuan ini biasanya berlangsung dalam suasana kekeluargaan yang hangat, dipimpin oleh tokoh adat atau sesepuh keluarga dari masing-masing pihak. Setelah kesepakatan tercapai, maka pertunangan dinyatakan sah menurut adat, dan hubungan dua keluarga pun mulai terjalin lebih erat.

Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan masih dijalankan hingga hari ini di Padang Sarai. Masyarakat setempat percaya bahwa menjaga adat adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur dan akar budaya Minangkabau.

“Ini bukan sekadar tradisi, tapi cara kami menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kesopanan dalam menjalin hubungan kekeluargaan,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Padang Sarai.

Di tengah gempuran budaya luar, tradisi hantaran nasi lamak singgang ayam dalam acara tunangan ini menjadi pengingat akan kekayaan budaya lokal yang sarat makna dan filosofi. Sebuah warisan budaya yang patut dilestarikan, tak hanya oleh masyarakat Minang, tetapi juga oleh generasi muda Indonesia secara keseluruhan.(ER)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....