OJK Optimistis IHSG Pulih usai Tertekan Sepanjang Tiga Kuartal 2026

  • 06 Okt 2026 11:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • OJK optimistis IHSG pulih meski masih menghadapi tekanan dari sentimen global dan domestik.
  • IHSG mulai menunjukkan pemulihan setelah menyentuh titik terendah 5.342,14 pada 8 Juni 2026.
  • Tekanan global dan domestik masih menjadi perhatian, terutama geopolitik, inflasi, suku bunga, rupiah, dan strategi investor asing.

RRI.CO.ID, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) segera pulih setelah menghadapi tekanan sepanjang tiga kuartal 2026. Tekanan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang berdampak terhadap pergerakan pasar modal Indonesia.

Secara year to date (ytd), IHSG tercatat melemah 2.528,08 poin atau 29,24 persen menjadi 6.118,86 per Senin, 5 Oktober 2026. Posisi tersebut turun dibandingkan level IHSG sebesar 8.646,94 pada 30 Desember 2025.

Meski demikian, OJK menilai ketahanan pasar modal nasional masih memberikan ruang bagi pemulihan IHSG. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan peluang pemulihan masih terbuka.

"Ke depan, OJK tetap optimistis terkait dengan peluang pemulihan pasar domestik. Meskipun pergerakannya masih terus akan dipengaruhi berbagai dinamika kondisi global dan juga kinerja fundamental emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI)," ujar Hasan dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK September 2026 secara daring, Senin, 5 Oktober 2026.

Optimisme tersebut terlihat dari pergerakan IHSG yang mulai memasuki fase pemulihan setelah menyentuh titik terendah 5.342,14 pada 8 Juni 2026. Menurut Hasan, pembalikan indeks dari titik terendah tersebut menunjukkan adanya ruang pemulihan pasar.

Sejalan dengan itu, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO), pelaku pasar, dan pemangku kepentingan terus memperkuat transparansi serta tata kelola. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan pelindungan investor di pasar modal Indonesia.

OJK juga terus melakukan pendalaman pasar untuk meningkatkan kepercayaan investor lokal maupun asing, termasuk investor ritel dan institusi. Upaya tersebut ditujukan agar integritas dan daya tarik pasar modal Indonesia tetap terjaga.

"OJK juga akan terus memastikan integritas dan investability pasar modal kita dapat terus terjaga. Hal ini penting agar pasar dapat tumbuh secara berkelanjutan dari waktu ke waktu," kata Hasan.

Dari sisi global, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi ketidakpastian geopolitik yang mengganggu distribusi komoditas dan mendorong kenaikan harga. Kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap inflasi serta berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kenaikan inflasi juga mendorong ekspektasi suku bunga acuan global bertahan tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kondisi moneter yang ketat tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global secara umum.

"Hal itu menjadi salah satu faktor tekanan terhadap rupiah. Selain itu, ada penyesuaian strategi investasi oleh investor, terutama investor asing, yang turut memengaruhi pasar sepanjang tahun 2026 ini," ujarnya.

Dari dalam negeri, perhatian investor global tertuju pada reformasi kebijakan pasar modal Indonesia beserta implementasinya sepanjang 2026. Penilaian dari penyedia indeks global juga menjadi perhatian yang memengaruhi keputusan dan strategi investasi di pasar modal Indonesia.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, IHSG pada penutupan perdagangan Senin kembali menguat 81,97 poin atau 1,36 persen ke posisi 6.118,86. Sementara itu, indeks LQ45 naik 7,77 poin atau 1,30 persen menjadi 603,23.

Frekuensi perdagangan saham mencapai 1,64 juta transaksi dengan volume 40,24 miliar saham senilai Rp9,96 triliun. Sebanyak 547 saham menguat, 164 saham melemah, dan 252 saham tidak bergerak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....