IHSG Bergerak ke Zona Merah pada Penutupan Hari ini, Berada di Level 6071,14

  • 30 Sep 2026 16:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup melemah 0,83 persen atau 50,56 poin ke level 6.071,14 pada perdagangan Rabu, 30 September 2026
  • Rupiah dan sentimen fiskal domestik menjadi perhatian investor, termasuk pengesahan APBN 2027 dengan defisit Rp671,16 triliun atau 2,4 persen PDB
  • APBN 2027 menetapkan belanja negara Rp4.106,26 triliun, dengan anggaran pendidikan Rp824 triliun dan perlindungan sosial Rp539,7 triliun

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah di penutupan sesi perdagangan Rabu, 30 September 2026. Pergerakan terlihat setelah IHSG ditutup pada posisi 6071,14 atau turun 50,56 poin (0,83 persen).

Berdasarkan data perdagangan, IHSG bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan hari ini. IHSG dibuka pada level 6118,05 dan menyentuh posisi tertinggi di 6187,05.

Mayoritas saham mengalami pelemahan. Tercatat sebanyak 360 saham melemah, sementara 308 saham menguat dan 125 saham stagnan.

Sementara, aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi mencapai Rp12,746 triliun. Untuk volume saham yang diperdagangkan mencapai 29,515 miliar lembar dengan frekuensi lebih dari 1,784 juta kali transaksi.

Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai kondisi pasar juga dipengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp18.031 per dolar AS. "IHSG cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.050-6.200," katanya.

Selain pergerakan rupiah, investor juga mencermati sejumlah sentimen domestik yang berpotensi memengaruhi pasar. Tim Phintraco mewaspadai peningkatan fluktuasi pada hari terakhir triwulan III 2026.

Salah satu perhatian utama berasal dari pengesahan Rancangan Undang-Undang APBN 2027 menjadi Undang-Undang. Di antaranya mempertahankan defisit fiskal sesuai usulan awal nota keuangan sebesar Rp671,16 triliun atau 2,4 persen PDB.

“Meski defisit tetap, terdapat perubahan pada target pendapatan dan belanja negara dalam kesepakatan terbaru,” katanya. “Namun terdapat perubahan dari target pendapatan dan belanja negara.”

Sedangkan pendapatan negara ditetapkan Rp3.435,10 triliun, lebih tinggi dari usulan awal Rp3.426,03 triliun. Sementara itu, belanja negara ditargetkan Rp4.106,26 triliun, naik dari usulan semula Rp4.097,19 triliun.

Perubahan tersebut terutama berasal dari peningkatan belanja kementerian dan lembaga, sedangkan transfer daerah relatif tidak berubah. “Postur APBN 2027 menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga,” ujar Tim Phintraco.

Menurut Tim, postur tersebut diharapkan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi domestik melalui konsumsi dan investasi. Kedua komponen tersebut dinilai menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, tetap perlu diperhatikan ruang fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. "Ini karena defisit masih relatif besar," katanya.

Tim Phintraco menilai beban APBN juga menghadapi tantangan dari ketidakpastian global yang masih tinggi. Karena itu, perkembangan fiskal domestik menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati investor.

Pada APBN 2027, anggaran pendidikan ditetapkan sebesar Rp824 triliun, salah satu alokasi utama pemerintah. Sementara itu, anggaran perlindungan sosial mencapai Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, dan ketahanan pangan Rp195,3 triliun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....