IHSG Naik 0,15 Persen ke Level 6.130,88 pada Jeda Siang Perdagangan
- 30 Sep 2026 13:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG naik 0,15 persen ke level 6.130,88 pada penutupan sesi I perdagangan, Rabu 30 September 2026.
- Investor mencermati APBN 2027, ruang fiskal, kebutuhan pembiayaan, serta ketidakpastian ekonomi global.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan saat jeda siang perdagangan, Rabu 30 September 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat mencapai level 6.130,88 atau naik 9,18 poin (0,15 persen).
Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 0,06 persen ke level 6.118,04 dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Indeks juga sempat menyentuh angka tertinggi pada level 6.187 sepanjang sesi I perdagangan.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai kondisi pasar juga dipengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp18.031 per dolar AS. "IHSG cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.050-6.200," katanya.
Selain pergerakan rupiah, investor juga mencermati sejumlah sentimen domestik yang berpotensi memengaruhi pasar. Tim Phintraco mewaspadai peningkatan fluktuasi pada hari terakhir triwulan III 2026.
Salah satu perhatian utama berasal dari pengesahan Rancangan Undang-Undang APBN 2027 menjadi Undang-Undang. Di antaranya mempertahankan defisit fiskal sesuai usulan awal nota keuangan sebesar Rp671,16 triliun atau 2,4 persen PDB.
“Meski defisit tetap, terdapat perubahan pada target pendapatan dan belanja negara dalam kesepakatan terbaru,” katanya. “Namun terdapat perubahan dari target pendapatan dan belanja negara.”
Sedangkan pendapatan negara ditetapkan Rp3.435,10 triliun, lebih tinggi dari usulan awal Rp3.426,03 triliun. Sementara itu, belanja negara ditargetkan Rp4.106,26 triliun, naik dari usulan semula Rp4.097,19 triliun.
Perubahan tersebut terutama berasal dari peningkatan belanja kementerian dan lembaga, sedangkan transfer daerah relatif tidak berubah. “Postur APBN 2027 menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga,” ujar Tim Phintraco.
Menurut Tim, postur tersebut diharapkan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi domestik melalui konsumsi dan investasi. Kedua komponen tersebut dinilai menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, tetap perlu diperhatikan ruang fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah. "Ini karena defisit masih relatif besar," katanya.
Tim Phintraco menilai beban APBN juga menghadapi tantangan dari ketidakpastian global yang masih tinggi. Karena itu, perkembangan fiskal domestik menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati investor.
Pada APBN 2027, anggaran pendidikan ditetapkan sebesar Rp824 triliun, salah satu alokasi utama pemerintah. Sementara itu, anggaran perlindungan sosial mencapai Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun, dan ketahanan pangan Rp195,3 triliun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....