IHSG Melemah ke Level 6.118,05 pada Awal Perdagangan

  • 30 Sep 2026 10:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG dibuka melemah 0,06 persen ke level 6.118,05 pada perdagangan Rabu, 30 September 2026.
  • Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak konsolidatif dalam kisaran 6.050 hingga 6.200.
  • Investor mencermati pengesahan APBN 2027 dengan defisit Rp671,16 triliun atau 2,4 persen PDB.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Rabu, 30 September 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 6.118,05 atau turun 3,65 poin (0,06 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,43 persen di level 6.121,7. Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut IHSG berpotensi bergerak konsolidatif pada perdagangan hari ini.

Pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh merosotnya nilai tukar rupiah, yang sempat menembus Rp18.031 per dolar AS. "IHSG hari ini cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.050-6.200," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas dalam analisisnya, Rabu, 30 September 2026.

Tim Phintraco mewaspadai kemungkinan meningkatnya fluktuasi di hari terakhir triwulan III 2026, hari ini. Di dalam negeri, Tim Phintraco mencermati pengesahan Rancangan Undang-Undang APBN 2027 menjadi Undang-Undang.

APBN 2027 antara lain mempertahankan defisit fiskal sesuai dengan usulan awal nota keuangan. Yaitu sebesar Rp671,16 triliun atau setara 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Namun terdapat perubahan dari target pendapatan dan belanja negara," ucapnya. Untuk pendapatan negara, kesepakatan terbaru senilai Rp3.435,10 triliun, lebih tinggi dari usulan awal Rp 3.426,03 triliun.

Untuk belanja negara targetnya berubah menjadi Rp4.106.l,26 triliun, lebih tinggi dari usulan semula Rp4.097,19 triliun. "Postur APBN 2027 menunjukkan ekspansi fiskal yang relatif terjaga," ujar Tim Phintraco.

Untuk kenaikan belanja terutama berasal dari belanja Kementerian atau Lembaga. Sedangkan transfer ke daerah dan target keseimbangan primer relatif tidak berubah.

Tim Phintraco menyebut, APBN ini diharapkan dapat menjaga dukungan fiskal terhadap pertumbuhan domestik. Utamanya untuk mendorong pertumbuhan konsumsi dan investasi, sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.

"Namun tetap perlu memperhatikan ruang fiskal dan kebutuhan pembiayaan karena defisit masih relatif besar," kata Tim Phintraco lagi. Beban APBN bertambah berat karena ketidakpastian global yang masih tinggi.

Beberapa alokasi anggara utama adalah pendidikan sebesar Rp824 triliun. Sedangkan anggaran untuk perlindungan sosial Rp539,7 triliun, kesehatan Rp244,9 triliun dan ketahanan pangan nasional Rp195,3 triliun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....