Wamenkeu Tekankan Ketahanan Fiskal Harus Kuat karena Risiko Global Tinggi
- 28 Sep 2026 15:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menekanan pentingnya memperkuat ketahanan fiskal dalam menghadapi guncangan global, agar pertumbuhan tidak terganggu
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, menekanan penguatan ketahanan fiskal dalam menghadapi guncangan global agar tidak menganggu pertumbuhan. Menurut dia, risiko global saat ini semakin tinggi dan terhubung antara satu sektor dengan sektor lainnya.
Demikian disampaikan Wamenkeu pada acara Central Banking Service Festival (CB Fest) 2026 di Jakarta, Senin, 28 September 2026. “Ketegangan geopolitik, misalnya, dapat mengganggu pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga energy,” ujarnya.
Wamenkeu menegaskan hal ini tidak hanya akan berdampak pada kenaikan tingkat inflasi. “Suku bunga global, arus modal, nilai tukar, biaya pembiayaan, hingga pertumbuhan ekonomi juga akan terdampak,” ucapnya.
CB Fest 2026 mengdepankan tema “Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth”. Menurut Juda, selain geopolitik, dunia saat ini juga dihadapkan pada persoalan yang semakin kompleks.
“Disrupsi teknologi, fragmentasi keuangan, hingga kompleksitas rantai pasok global juga menjadi risiko global,” ucapnya. Karena itu, perlu kemampuan institusi untuk menyerap guncangan dan beradaptasi, bukan sekedar menjaga stabilitas.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, kebijakan fiskal harus tetap berfungsi sebagai shock absorber guna menjaga momentum pertumbuhan. APBN harus mampu melindungi masyarakat, mendukung aktivitas produktif, dan merespons risiko yang muncul.
“Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan,” ujar Wamenkeu. “Sehingga nantinya dapat melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan.”
Juda juga menegaskan ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Sistem keuangan perlu tetap stabil, efisien, dan inklusif agar mampu menyediakan sumber pembiayaan yang beragam untuk kegiatan produktif.
Menurut dia, peran perbankan harus dikembangkan, bukan hanya sekadar menyalurkan kredit. Selain itu harus menjadi bagian dalam meningkatkan produktivitas, mendukung UMKM, dan menciptakan lapangan kerja.
Wamenkeu menambahkan untuk menciptakan ketahanan tersebut harus ada koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Termasuk kebijakan makroprudensial dan regulasi yang kuat di sektor keuangan.
“Ketahanan bukan berarti tidak adanya guncangan, tetapi bagaimana kemampuan kita untuk menyerapnya dan beradaptasi terhadap perubahan,” ucapnya. “Di tengah guncangan, kita bisa terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....