Tekanan Dolar AS Sedang Menurun, Penguatan Rupiah Berlanjut di Akhir Pekan
- 17 Jul 2026 16:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Data Bloomberg menunjukkan, hari ini rupiah ditutup naik 0,36 persen atau 65 poin ke posisi Rp17.921 per dolar AS
- Tekanan dolar AS pada rupiah melonggar karena ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed. Namun harga minyak mentah yang kembali melambung, menimbulkan kekhawatiran inflasi yang meningkat
- Di dalam negeri, Ibrahim mencermati dua data ekonomi yang dirilis Bank Indonesia hari ini. Yakni hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II-2026 dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI)
RRI.CO.ID, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar AS di tengah masih tingginya tekanan global. Data Bloomberg menunjukkan, hari ini rupiah ditutup naik 0,36 persen atau 65 poin ke posisi Rp17.921 per dolar AS.
Tekanan dolar AS pada rupiah melonggar karena ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed. Namun harga minyak mentah yang kembali melambung, menimbulkan kekhawatiran inflasi yang meningkat.
“Harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve karena inflasi kemungkinan tetap di atas target,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 17 Juli 2026. Meski pun, data inflasi konsumen yang dirilis minggu melemah, yang menunjukkan menurunnya tekanan harga.
Para pembuat kebijakan, lanjut Ibrahim, telah berulang kali memperingatkan bahwa harga minyak yang lebih dapat memperumit prospek inflasi. “Mereka mengatakan butuh data harga yang rendah dalam beberapa bulan lagi, sebelu mempertimbangkan pemangkasan suku bunga,” ucapnya.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) mencapai level tertinggi dalam sebulan terakhir. Konflik AS-Iran memicu konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman membuat Timur Tengah kembali membara.
Harga minyak mentah Brent hari ini bergerak di kisaran USD84,95 hingga USD85,28 per barel. Sedangkan harga minyak mentah WTI bergerak di kisaran USD79,55 hingga USD79,98 per barel
Di dalam negeri, Ibrahim mencermati dua data ekonomi yang dirilis Bank Indonesia hari ini. Yakni hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II-2026 dan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI).
Hasil SKDU menunjukkan aktivitas dunia usaha meningkat pada triwulan II 2026, dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,97 persen. Persentasenya meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 10,11 persen.
Sedangkan Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatatkan kinerja industri pengolahan pada fase ekspansi. PMI BI tercatat sebesar 51,43 persen pada kuartal II, lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 52,03 persen.
BI mencatat bahwa PMI BI ditopang oleh ekspansi beberapa komponen. Diantaranya Volume Produksi (53,81 persen), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00 persen), serta Volume Total Pesanan (52,77 persen).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....