IHSG Turun 0,84 persen pada Jeda Siang Perdagangan Hari Ini
- 17 Jun 2026 12:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG turun 0,84 persen pada sesi I perdagangan, namun masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.
- Koreksi harga minyak dunia dan rencana penerbitan Panda Bonds menjadi sentimen positif bagi pasar saham.
- Investor menanti hasil RDG Bank Indonesia serta arah kebijakan suku bunga yang akan memengaruhi pasar.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah saat jeda siang perdagangan, Rabu, 17 Juni 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat di level 6202,47 atau turun 52,5 poin (0,84 persen).
Sebelumnya, Tim Analis Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam perdagangan berikutnya. IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 6.150 hingga 6.400.
Menurut Phintraco Sekuritas, koreksi harga minyak mentah menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Penurunan harga minyak dinilai dapat meredakan tekanan inflasi sekaligus mengurangi risiko pelebaran defisit APBN.
Pelaku pasar juga mencermati rencana pemerintah menerbitkan Panda Bonds pada akhir Juni atau awal Juli 2026. Saat ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tengah melakukan promosi kepada investor di Tiongkok guna mengukur minat pasar.
Penerbitan Panda Bonds dinilai berpotensi membantu diversifikasi sumber pembiayaan pemerintah. Selain itu, langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dan memperkuat nilai tukar rupiah.
"Pemerintah ingin melihat dulu bagaimana respons dan minat investor terhadap rencana penerbitan obligasi tersebut. Tujuan penerbitan Panda Bonds ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat nilai tukar rupiah," ujar Tim Phintraco.
Di sisi lain, pasar turut memperhatikan perkembangan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. April 2026, ULN tercatat tumbuh 1,9 persen menjadi USD439,8 miliar dengan rasio Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,6 persen.
Selain itu, pemerintah telah menghimpun tambahan penerimaan pajak sebesar Rp23,5 triliun hingga 31 Mei 2026. Capaian tersebut berasal dari perluasan basis pajak melalui penambahan wajib pajak baru dan optimalisasi kepatuhan perpajakan.
Menurut Phintraco Sekuritas, peningkatan utang dan penerimaan negara dapat memperluas ruang fiskal pemerintah. Namun, kebijakan tersebut juga perlu dikelola secara hati-hati agar tidak menambah beban bagi dunia usaha dan masyarakat.
Pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juni 2026. Investor menunggu arah kebijakan suku bunga acuan setelah BI sebelumnya menaikkan BI Rate di luar jadwal 9 Juni lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....