IHSG Dibuka Naik ke Level 6.321, Kesepakatan Damai AS-Iran Angkat Optimisme Pasar
- 17 Jun 2026 10:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka pada level 6.321,19 atau naik 66,22 poin (1,06 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level 6.254,97.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik ke level 6.321,19 pada pembukaan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026. Posisi tersebut lebih tinggi 66,22 poin atau sekitar 1,06 persen dibandingkan pada penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.254,97.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak pada rentang 6.150 hingga 6.400. Menurut mereka, koreksi harga minyak mentah menjadi salah satu faktor positif yang dapat menopang pergerakan pasar.
“Kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi tekanan terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),” katanya. Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas juga menyebutkan penguatan pasar didukung membaiknya perkembangan geopolitik global.
Menurut mereka, sektor basic materials mencatat kenaikan tertinggi sebesar 7,26 persen. Sebaliknya, sektor healthcare menjadi satu-satunya yang melemah dengan penurunan 0,67 persen.
Tim Pilarmas menyoroti perkembangan terbaru terkait rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kedua negara disebut bersiap menandatangani kesepakatan perdamaian sementara yang berpotensi membuka kembali akses ekspor minyak Iran ke pasar global.
Hal tersebut dinilai menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan dunia. “Harapan meredanya konflik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah turun,” katanya.
Harga minyak WTI saat ini bergerak turun ke level USD76,79 per barel. Sedangkan harga minyak Brent turun ke level USD78,96 per barel.
Menurut Tim Pilarmas, penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi global dan menurunkan risiko kenaikan suku bunga. Kondisi tersebut juga memberikan dampak positif bagi Indonesia yang sebelumnya menghadapi tekanan akibat lonjakan harga energi.
“Turunnya harga minyak akan menurunkan tekanan terhadap inflasi dan tingkat suku bunga,” katanya. “Hal ini juga memberikan implikasi positif bagi perekonomian nasional.”
Penguatan nilai tukar rupiah juga dinilai sebagai sinyal awal membaiknya sentimen pasar. Kondisi tersebut diharapkan dapat membuka peluang masuknya kembali aliran modal asing ke pasar domestik.
Di dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati rencana pemerintah menerbitkan Panda Bonds pada akhir Juni atau awal Juli 2026. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, saat ini berada di Tiongkok untuk mempromosikan instrumen surat utang tersebut kepada calon investor.
“Pemerintah ingin melihat dulu bagaimana respons dan minat investor terhadap rencana penerbitan obligasi tersebut,” kata Tim Phintraco. “Tujuan penerbitan Panda Bonds ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat nilai tukar rupiah.”
Investor juga memperhatikan laporan Bank Indonesia (BI) mengenai utang luar negeri (ULN) Indonesia. Pada April 2026, posisi ULN Indonesia tercatat tumbuh 1,9 persen menjadi USD439,8 miliar.
Di sisi fiskal, pemerintah melaporkan penerimaan pajak sebesar Rp23,5 triliun hingga 31 Mei 2026. Ini diperoleh melalui upaya perluasan basis pajak, penambahan wajib pajak baru dan optimalisasi pajak dari wajib pajak yang tidak aktif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....