IHSG Diprakirakan Masih Berpeluang Menguat dalam Perdagangan Saham Hari Ini

  • 17 Jun 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih akan bergerak naik dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini
  • Koreksi harga minyak mentah menjadi faktor positif ke pasar saham karena meredakan tekanan inflasi dan defisit APBN
  • Para investor juga mencermati rencana pemerintah menerbitkan Panda Bonds sekitar akhir Juni atau awal Juli 2026

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih akan bergerak naik dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Pada Senin kemarin, IHSG ditutup naik signifikan 4,12 persen ke level 6.254,97.

"IHSG diprakirakan akan bergerak pada rentang 6.150-6.400 pada perdagangan hari ini," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Rabu, 17 Juni 2026. Koreksi harga minyak mentah menjadi faktor positif ke pasar saham karena meredakan tekanan inflasi dan defisit APBN.

Para investor, lanjut Tim Phintraco, juga mencermati rencana pemerintah menerbitkan Panda Bonds sekitar akhir Juni atau awal Juli 2026. Saat ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang berada di Tiongkok untuk mempromosikan surat utang tersebut ke para investor di Tiongkok.

"Pemerintah ingin melihat dulu bagaimana respons dan minat investor terhadap rencana penerbitan obligasi tersebut. Tujuan penerbitan Panda Bonds ini antara lain untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat nilai tukar rupiah," ujar Tim Phintraco.

Beberapa faktor yang mempengaruhi sentimen pasar adalah laporan Bank Indonesia (BI) mengenai Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. Pada April 2026, ULN Indonesia tumbuh 1,9 persen menjadi USD439,8 miliar.

ULN Indonesia meningkat dibandingkan bulan Maret 2026, ULN Indonesia hanya tumbuh 1 persen. Sementara itu rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,6 persen pada April 2026.

Di sisi lain, pemerintah telah mengumpulkan setoran pajak senilai Rp23.5 triliun. Penerimaan pajak ini dari upaya perluasan basis pajak hingga 31 Mei 2026.

"Langkah iti dilakukan melalui penambahan wajib pajak baru dari sektor potensial. Pengusaha kena pajak baru, hingga memungut pajak dari wajib pajak yang sebelumnya tidak aktif," ucap Tim Phintraco.

Menurutnya, penambahan utang dan penambahan wajib pajak dapat memperlebar ruang fiskal negara dan meningkatkan penerimaan negara. Pada saat yang samam dapat membebani perusahaan atau masyarakat.

Pelaku pasar juga sedang menantikan pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Kamis 18 Juni 2026. Terutama suku bunga kebijakan BI setelah menaikkan BI Rate di luar jadwal pada 9 Juni kemarin.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....