Akhir Pekan, Rupiah Menguat Signifikan 128 Poin

  • 12 Jun 2026 20:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,71 persen atau 128 poin menjadi Rp17.860 per dolar AS
  • Rupiah menguat karena dolar AS yang sedang tertekan dipicu oleh pernyataan Presiden Trump
  • Di dalam negeri,  pasar mencermati laporan Bank Dunia yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta – Nilai tukar rupiah melesat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,71 persen atau 128 poin menjadi Rp17.860 per dolar AS.

Rupiah menguat karena dolar AS yang sedang tertekan dipicu oleh pernyataan Presiden Trump. Trump menyatakan membatalkan serangan ke Iran hanya sehari setelah Presiden AS itu mengancam Iran dengan serangan besar.

“Trump bahkan mengklaim kesepakatan damai dengan Iran mencapai kemajuan. Selat Hormuz bahkan disebutnya akan dibuka kembali untuk pelayaran,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat, 12 Juni 2026.

Namun klaim Trump itu ditepis oleh Teheran yang menyatakan belum membuat keputusan akhir. Iran juga masih menutup Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran.

Di sisi lain, data inflasi AS yang meningkat memperkuat kekhawatiran akan kebijakan suku bunga the Fed. Data harga produsen pada bulan Mei juga naik lebih tinggi dari perkriaan.

Indeks Harga Produsen tercatat naik 1,1 persen secara bulanan, dan naik menjadi 6,5 persen secara tahunan. Kenaikan disebakan oleh meningkatnya biaya energi.

“Pelaku pasar memperkirakan sekitar 60 persen kemungkinan kenaikan suku bunga the Fed pada Desember 2026,” ucap Ibrahim. Sementara itu, di dalam negeri, pasar mencermati laporan Bank Dunia yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Bank Dunia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5 persen. Sebelumnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diprakirakan hanya sebesar 4,7 persen,” ujar Ibrahim.

Revisi ke atas dari Bank Dunia itu, sambungnya, ditopang kinerja perekonomian triwulan I 2026 yang cukup kuat. Penopang utamanya adalah konsumsi rumah tangga bersamaan dengan momen Ramadan, Idulfitri, pembayaran THR, dan akselerasi program MBG.

“Sepanjang tahun 2026, konsumsi swasta diprakirakan akan tumbuh di kisaran 5 persen. Didukung oleh stimulus fiskal oleh pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga diproyeksikan akan tumbuh tinggi 8,7 persen,” kata Ibrahim.

Kendati proyeksi dikerek naik, Bank Dunia memberikan catatan terkait ketergantungan pemerintah terhadap konsumsi. Jika diandalkan sebagai penyangga pertumbuhan dalam jangka pendek, akan berisiko pada ruang fiskal yang terbatas.

Bank Dunia mencontohkan beban subsidi yang makin besar imbas eskalasi konflik di Timur Tengah. Selain itu, guncangan di pasar keuangan dan pasar modal karena pengumuman MSCI, akan menguji ketahanan ekonomi domestik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....